Rabu, 11 Mei 2011

Aku datang karena aku mengerti



Belum mengerti saja, aku
Tawar air sungai Batang Hari ku tawar
Hingga jumlah hari memanjang berlari,
Siapa yang tahu di ujungnya
Akan jatuh selembar daun mawar
hingga mengerti saja, aku


Sepinggan peluh bercucur hujan
Menyiram langkah dan rerumputan
Sedang tiada sampai duka,
Hanya bersitatap dengan lembayung senja
Meski beribu pasir menyelam kedalaman,
dan adalah aku yang tetap tiada bulan.


Belum mengerti saja, aku
Langit rebah pada ujung ilalang
Hingga mengerti saja, aku datang.




Jambi, Rumah Kemuliaan
17 Mei 2009

4 comments:

Gaphe at: 11 Mei 2011 06.29 mengatakan...

puisi ini beberapa hari lagi akan berulang tahun yang kedua.

bagus.. ceritanya tentang keinginan untuk bertemu bukan?
*saya nggak pinter apresiasi puisi, makanya bingung kalo dikasih puisi. heheheh

Nihayatuzzin at: 11 Mei 2011 12.56 mengatakan...

makasih banget mas Gaphe mau mampir (mas gaphe dah jadi seleb blogger neh cihuy. . .) Alhamdulillah kemarin sudah ulang tahunnya, hehe. puisi ini aku buat dengan diksi yang kuat (ciyee) terjemahan mas Gaphe ga salah,, namun ada lagi tuh satu lagi hehe

Aina at: 12 Mei 2011 14.32 mengatakan...

puisi yang bagus banget..... hmmm, bahasanya campuran daerah mana ya thu>? jambi ya?

Nihayatuzzin at: 12 Mei 2011 20.17 mengatakan...

ah, biasa aja kok ukhty,, hehee iya tuh ada selipan dialek Jambi, tepatnya dari daerah Sarolangun. . .