Selasa, 26 Juli 2011

Pujian dari sang maestro


Pada 17 Mei 2009 yang telah lewat, ketika masih dalam proses menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) provinsi Jambi, salah satu kegiatan yang diadakan oleh FLP jambi dalam rangka memberikan tambahan wawasan sastra kepada calon anggotanya adalah mengadakan Pelatihan Menulis Puisi. Dan yang menjadi nara sumbernya adalah ibu Iriyani R Tandy, seorang maestro puisi dari daerah Jambi.

Sebelum mengikuti acara ini, panitia menginstruksikan kepada para peserta untuk menuliskan sebuah puisi asli karya sendiri. Saat itu, aku memilih salah satu puisiku yang berjudul Terza Rima Tak Sempurna. Pada saat acara berlangsung, dia menjelaskan apa itu puisi dengan kalimat yang sangat mudah dicerna. Di akhir sesi, setiap karya kami yang dikumpul di awal acara, di analisa olehnya satu persatu. ketika sampai pada giliran puisiku yang dianalisa, mukanya tersenyum kagum (ga niat menyombongkan diri lho, hehe). Dia bilang diksi yang aku gunakan sangat indah dan padat makna, apalagi pada bait pertama:

aku titipkan bulan pada harum cendana seribu pagi
sebuah seruling yang tiada pernah bersuara
sesekali hanya berkata pada kilatan cahaya sunyi


dalam hati aku sangat bersyukur karena sudah dapat membuat seorang penyair ternama berdecak kagum membaca karyaku. Setidaknya salah satu dari karyaku. Dalam pelatihan tersebut, juga ada sesi membuat puisi. semua anggota diberikan dua kalimat yaitu: "jangan beri aku uang saku aladin, karena hari esok bukan kue tart yang jatuh ke piring". dua kalimat itu harus kami tambahin, diolah (ga dimasak ya. . . hehe) dan diramu menjadi sebuah puisi. berikut adalah puisi yang aku buat di sesi pembuatan puisi:

BIARLAH HARUMKU TERCIUM SENDIRI

Jangan berikan aku uang saku aladin
karena hari esok bukan kue tart yang jatuh ke piring
dengan beberapa warna gula
yang kemudian manis tanpa sececap pahit
lalu seperti air mengalir.

Jangan beri aku uang saku aladin
yang pasti sejuk dibelai angin.

berilah aku kain saku saja meski belum siap sempurna
untuk dijahit dengan benang cinta
akan bisa sebagai kantung bulan;
seperti air sumur berlari melalui pipa,
memanjat sisi-sisinya yang sempit dan gelap,
hingga badan ku basuh sendiri di pagi hari,
dan harumku tercium sendiri.

Lalu siapa sebenarnya Iriani R Tandy? Dia adalah salah satu penyair dari jambi yang lahir pada 9 Juli 1960. Dia berdarah cina dan pernah menjadi pegawai negri sipil selama enam bulan saja. Dia memiliki dua orang putri. yang satunya sedang menyelesaikan S2 di UGM (mungkin sudah selesai sekarang), dan yang satu lagi di fakultas kedokteran UNJA. menulis puisi sudah menjadi hobinya, karena hal itu bisa memenuhi tuntunan batinnya. Dia tidak pernakh mempersoalkan apakah dia akan dikenal banyak orang atau pun tidak. Padahal cita-citanya adalah menjadi dokter. sekarang, sebagai dokter juga, tapi terapinya dengan kata-kata dalam bait-bait puisi,  ^_^. Puisi-puisinya pernah dimuat diberbagai surat kabar dan media seperti: Kompas, Republika, Berita Buana, Zaman, Independent, dll. Antologi tunggalnya Senandung Kecil di cetak atas anugerah MUARO, sebuah penghargaan untuk sastrawan dari pemprov Jambi pada tahun 2000. berikut ini adalah jejak langkahnya dalam antologi gabungan dan juga aktivitasnya sebagai penyair:
  • Antologi puisi sesumatra (1995)
  • Pemintal Ombak, Sanggar Sastra Purbacaraka Award, Udayana Bali (1996)
  • Antologi Puisi Indonesia (1997)
  • Musim Bermula Penyair Perempuan se Sumatra (2001)
  • Musim Kemilau Penyair Perempuan Indonesia (2002)
  • Beyond The Garden Gate, The International Library of Poetry, Orlando, USA (2003)
  • Pesona Gemilang Musim, Penyair Indonesia, Malaysia, Singapura (2004)
  • Dalam katalog acara Festival International Writer, Bali (2004)
  • Menjadi pembicara dalam acara Temu Sastrawati se Indonesia di Jakarta (2006)
  • Antologi Penyair Kontemporer Indonesia 2007
  • Ungunya Pernikahan bersama Titi Said, Maria A Sarjono, Pipit Senja dkk (2008)
  • dia adalah salah seorang dari 111 Penyair Wanita Mutakhir Indonesia dalam kurun waktu 1925 - 1995 oleh Korrie Layun Rampan versi Kompas.

9 comments:

Ani at: 26 Juli 2011 16.10 mengatakan...

Teriring salam untuk Sang Maestro

Menulis puisi rasanya seperti berada di dunia tersendiri ..
Membaca puisi rasanya seperti berada di dunia kata menari ..

Teruskan merangkai kata penyejuk sukma ^_^

Nihayatuzzin at: 26 Juli 2011 16.43 mengatakan...

Kalau ketemu lagi dengan bu Iriani, salam dari mba Ani, Insya Allah akan aku sampaikan :)

dengan puisi, kata-kata yang tidak bisa diucapkan secara langsung oleh lidah, bisa tergambar dengan indah. . .

meutia rahmah at: 26 Juli 2011 18.38 mengatakan...

ketika menulis bait-bait puisi seakan aku berada didunia ku tanpa orang lain...

Nihayatuzzin at: 26 Juli 2011 20.17 mengatakan...

K3 Tia,, itulah sebabnya, mengapa seorang pakar (lupa lagi namanya, hehehe) mengatakan bahwa, puisi itu lebih panjang caritanya daripada sebuah cerpen, bahkan sebuah film sekalipun. namun, kita berbahagia karena Allah memberikan kita Al Qur'an yang tiada bandingannya dengan tulisan yang lainnya . . . :)

Accilong at: 27 Juli 2011 19.46 mengatakan...

alahaiiii... cakep bener... puisinya maksudnya. :D

Nihayatuzzin at: 27 Juli 2011 23.05 mengatakan...

mba Asriani,, awalnya muka berseri2 dibilang cakep hahaha. . . puisi yang mana neh?

iriani tandy at: 18 September 2014 11.35 mengatakan...

Thank s ya anandaku smua

iriani tandy at: 18 September 2014 19.17 mengatakan...

Salam sastra

habibi daeng at: 22 November 2014 16.22 mengatakan...

Sama-sama bu Iriani. wah kagak nyangka orang yang lagi di bicarakan dalam postingan ini mengomentari langsung. padahal sebelum postingan ini dibuat, saya mencari-cari kalau-kalau bu Iriani ada website atau apalah, untuk dikaitkan link-nya, maksudnya, hehe Alhamdulillah :)