Sabtu, 30 Januari 2016

Maaf ya Mba, Tulisan Saya Jelek Sekali.

3 comments

Hampir satu jam tubuh saya yang dibungkus jaket Boss abu-abu disirami hujan rintik. Sesekali saya melirik jam tangan Rolex hitam yang juga mulai kedinginan. Saya harus sampai di Kantor Pos sebelum jam 5 sore, saya berbicara dalam hati. Dengan bunyi knalpot yang sesekali terputus-putus, Honda tua itu saya gas setinggi tingginya. Ternyata jari telunjuk speedometernya hanya bisa sampai di angka 70. Ah, biarlah, yang penting sampai.

Di pelataran parkir, di seberang pintu jembatan Pedestrian yang meliuk melintang di atas sungai Batanghari hingga menara Gentala Arasy, di depan sebuah bangunan yang cukup besar dengan dominasi warna orange, saya langsung menemui juru parkir;
 "masih buka ya, mas?"
"masih, mas. langsung masuk aja ke dalam"

Seperti kebingungan saya melihat kesana kemari. Ini baru pertama kalinya saya akan narik uang lewat Wesel Pos. Saya lihat hanya ada dua orang petugas. Enam tempat yang lainnya sudah kosong, mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 05.15 sore.

"Mba, saya mau ngambil duit" saya berbicara dengan salah satu petugas sambil menyodorkan Si Kodok Merah Putih Nokia kepadanya.

"Itu nomor Ntp dan Pin-nya mas, silahkan isi formulir terlebih dahulu di sebelah sana dan tolong foto kopi KTPnya juga ya."

Saya hanya tersenyum dan segera menuju meja tempat pengisian formulir. Ini pertama kalinya saya mengisi formulir penarikan Wesel Pos. Sedikit bingung, karena contoh pengisiannya sepertinya sudah disobek, hanya tertinggal sudut kertas sebelah kanan atasnya saja. Dari jarak sepuluh meter mba yang tadi sesekali melihat ke arah saya. Mungkin dia berkata dalam hatinya, kok lama sekali yaa, apa ga bisa ngisinya?.

Saya isi formulirnya dengan cepat-cepat dan dalam keadaan menggigil, dan cepat-cepat kembali ke meja petugas.

"ini mba, formulirnya"

Dia tidak menjawab tapi hanya memandang formulir tadi dengan dahi mengkerut kemudian mencolek teman sebelahnya dengan penuh tanya.

"Maaf mba, tulisan saya jelek sekali ya?" saya langsung mendahului sebelum dia yang mengatakannya.

Dia hanya tersenyum. Dari sisi kanan ruangan seseorang setengah berteriak;

"kok, lamo nian, bang?"
"Iyo, soalnyo baru kali ini narik Wesel"

"Ooo, jadi Mas ini kerja di tempat yang sama dengan mba yang teriak itu ya?"

Dia tertawa geli sambil menatap teman sebelahnya seperti tidak percaya. Mungkin dalam fikirannya, kok orang yang punya tulisan seperti ini bisa kerja di Bank. Mungkin itu, fikir saya.

"Iya" Jawabku cepat.
"2,4 juta ya, mas.
"Pas mba, uangnya.Makasih ya..."

Saya berlalu dengan cepat karena berkejaran dengan waktu yang hampir mendekati Maghrib. Sepanjang jalan saya masih tersenyum simpul mengingat hal yang baru saja terjadi. Apa iya tulisan saya seburuk itu yaa? selama ini pun dokter, apalagi jika menulis resep obat, tulisannya hampir tidak bisa saya baca. Bukan tulisannya, tapi semangat kerjanya yang utama, dalam hati saya membenarkan pernyataan yang saya buat sendiri.
Lanjutin Baca

Jumat, 20 November 2015

Cahaya Yang Menjadi Piala Kemenangan

5 comments

added from muchografico[dot]com
Kawan, cahaya yang engkau dapat adalah penerang yang akan tetap abadi ketika yang lainnya sudah padam menggelapkan pandangan hati. Itu adalah rezeki yang paling agung yang pernah diterima seorang hamba dari Tuhannya. Genggamlah sekuat tenaga talinya agar tidak terbang bersama dengan nikmat dunia yang akan mengalihkanmu. Di usia pandanganmu yang masih sangat muda, sudah pasti akan banyak sekali yang akan mencoba mengembalikanmu ke masa lalu, yang jauh dari hidayah, dengan indah dan nikmatnya dunia fana.

Kawan, diusiamu yang masih sangat muda, cahaya membelai dadamu. Jangan biarkan Ia redup hanya karena keinginan ego dunia, meskipun itu sangat menyenangkan. Jangan engkau lupakan saudara-saudaramu, meski baru engkau kenal beberapa bulan, yang seiman. Merekalah yang bersaksi atas keimananmu. Jika memang dari mereka ada yang ada yang membuatmu gundah karena tutur katanya, berdoalah untuk mereka agar bisa menyadari kesalahannya, dan juga untuk dirimu agar selalu diberi ketetapan hati dalam menjaga iman. Jangan kau pelihara keangkuhan hati yang berbungkus tubuh yang indah. Peliharalah ketaqwaanmu selalu untuk meyakinkan Ridwan bahwa engkau memiliki salah satu kunci untuk masuk dan menjadi penghuni Syurga.


Kawan, setiap satu tarikan nafas berarti telah berkurang waktu yang kita miliki di dunia ini. Pergunakanlah sebaik mungkin untuk belajar lebih dalam tentang keimananmu yang sekarang. Hablumminallah dan Hablumminannaas, hubungan dengan Allah sebagai hamba-Nya dan hubungan dengan sesama manusia, harus engkau selalu perbaiki juga. Saya selalu berdo’a semoga cahaya yang menjadi piala kemenanganmu tidak dirampas oleh kemilau dunia fana ini. Allahu yubarik fik.
Lanjutin Baca

Minggu, 01 November 2015

Menjadi Seorang Ayah

6 comments

Sekarang sudah menjadi seorang ayah, tentu bahagia sangat terasa. Karena ini adalah amanah dari Allah SWT, maka sekuat tenaga harus saya curahkan sekarang untuk memberikan ia pendidikan dan pengetahuan tentang kehidupan yang semestinya, agar ia bisa mengenal siapa dirinya sebenarnya, dan untuk apa ia terlahir ke dunia yang fana ini. Berharap ia bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi semua orang tanpa melupakan kewajibannya kepada Sang Pencipta semesta alam. Ia: Sakila Mar'atuljannah, semoga ia menjadikan Al Qur'an & Sunnah Nabi sebagai pedoman hidupnya sampai ia kembali kepada Rabb-nya. Aamiin.



رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS; Ibrahim: 40)

رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi maha penyayang." (QS: Al Baqarah: 128)

                         
      اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ 

وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ

"Ya Allah berikanlah barokahmu untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berikanlah mereka taufik untuk taat kepadamu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka"

     اَللهُمَّ اجْعَلْ أَوْلاَدَنَا أَوْلاَدًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَا فِى الدِّيْنِ مُبَرَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

"Ya Allah, Jadikanlah anak-anak kami yang shaleh shalehah, orang-orang yang hafal Al Qur'an dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama yang kehidupan mereka diberkahi di dunia dan akhirat." 
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

video


Lanjutin Baca