Sabtu, 14 Mei 2011

Terza RimaTak Sempurna



aku titipkan bulan pada harum cendana seribu pagi
sebuah seruling yang tiada pernah bersuara
sesekali hanya berkata pada kilatan cahaya sunyi


aku kumpulkan remah-remah udara yang tersisa
secarik kertas tempat berlabuh mengukir bunyi
yang hanya bisa terdengar pada tiap derap masa


sekepal nada hanya berwarna putih tak berisi
kemudian ku endapkan segala warna kota dan desa
harum dunia semakin menggila tanpa permisi


memantulkan sesinar pagi pada mahkota dari busa
karena mungkin mengira tanah selalu di bawah kaki
suburnya pun semakin hilang seperti lupa


aku titipkan bulan pada harum cendana seribu pagi
masih adakah remah-remah semangat yang tersisa?
negeri itu masih lekat dalam mimpi.



Jambi, Rumah Kemuliaan
16 Januari 2009

6 comments:

Sang Cerpenis bercerita at: 12 Mei 2011 21.48 mengatakan...

keren artikelnya

Nihayatuzzin at: 12 Mei 2011 21.59 mengatakan...

makasih ukhty,, hehee tapi yang diatas itu puisi, bukan artikel

A.A.Hafizh at: 14 Mei 2011 04.09 mengatakan...

puisinya bagus banget ...

Nihayatuzzin at: 14 Mei 2011 20.56 mengatakan...

makasih mas,, masih dalam tahap belajar hehe. tapi memang sih, puisi yang satu ini aku buat sampe draft ke-enam baru mantap rasanya untuk dipublikasikan. . .

Hariyanti Sukma at: 15 Mei 2011 09.30 mengatakan...

puisi nya keren nih .... salut dach .... soalnya aku gak bisa buat puisi...

Nihayatuzzin at: 15 Mei 2011 20.30 mengatakan...

makasih mba', (eh mba' atau ibu ya?)
alhamdulillah puisi ini pernah mendapat pujian dari Iriani R Tandi, salah seorang penyair senior di Jambi waktu pelatihan menulis puisi yang di adakan oleh FLP Jambi.