Selasa, 26 April 2011

Aku Belum Makan


added from http://gayungpatah.wordpress.com/
Tepat jam 06.00 matahari memulai kegiatannya, marathon di cakrawala. Hingga sebentar saja keringatnya bercucuran menyiram bumi yang sesak dengan kesibukan tanpa arah yang jelas. Tidak ketinggalan aku kena siram air keringatnya yang disebut orang dengan cahaya matahari. Cahaya itu membuka selimut yang ku jahit dari serpihan-serpihan kain yang ku dapat dari kolong jembatan. Aku duduk sejenak memperhatikan perutku yang kempis, tidak berisi sama sekali, tidak pernah dimasuki sebutir nasi dua hari belakangan ini, kecuali sisa-sisa air dalam botol aqua yang dilempar dari atas jembatan. Sejak kemarin tidak ada orang yang menawarkan sepatunya untuk disemir. Mungkin karena hasilnya tidak semaksimal dengan harapan orang yang   meminta disemirkan sepatunya.
 
Aku terbangkan penglihatanku ke sepanjang emperan sungai melewati kecepatan cahaya, menembus pijaran Matahari pagi hingga akhirnya terbentur di suatu bukit, planet paling jauh, Hati Nurani dan Akal. Aku berpikir bahwa gunungan sampah di tempatku ini adalah salah satu budaya yang berkembang pesat mendampingi gedung-gedung megah,perangkat-perangkat mesin serba Komputer. Komunitas sungai pun mulai bertambah seiring bertambah banyaknya populasi sampah di sungai. terbayang olehku telur-telur monster yang siap menetas, mengerayangi seluruh tubuh kota berikut isinya. Air sungai yang coklat-kehitaman merintih, terlalu sesak dengan sampah.

Aku duduk termenung. Semut-semut begitu tangkas dalam bekerja. Mereka Bantu-membantu sesama lainnya. Tidak peduli apakah Semut yang kaya raya, yang hartanya melimpah di negeri sendiri, atau menjadi penanam modal ulung di negeri orang, atau semut-semut yang makan dari sisa-sisa makanan yang Ia dapati. Aku masih melihat semut yang memanjat tiang jembatan, seolah-olah ingin menggapai matahari, meski Ia tahu hal yang demikian tidak mungkin untuk digapai.

“Aku, tidak. Aku tidak boleh mati. Ibuku boleh mati, Bapakku boleh mati, Kakakku boleh mati, Adikku boleh mati, semuanya boleh mati apabila waktunya memang sudah sampai, untuk mempertanggung jawabkan segala apa yang dikaruniakan kepada mereka di mahkamah Maha Agung. Tapi, Aku belum boleh mati karena hariku belum cukup untuk menghadap. Aku masih muda, jalanku masih panjang. Aku tidak boleh makan dari keringat Orang Lain.Aku harus terus hidup dengan kesederhanaan yang diberikan oleh Tuhan ku. Aku tidak akan mempersingkat hidupku hanya dengan seutas tali, atau dengan sebilah belati. Aku harus bisa hidup dan terbebas dari  NAPZA. Aku belum makan. Bagaimana tanggung jawabku nanti jika Jasmani dan Rohaniku lemah ? Ah, aku belum boleh mati “.

Sebentar lagi semut – semut itu sampai ke jalan raya. Sebentar lagi akan tegilas mobil-mobil marchedes yang platnya mengkilap. Dan benar saja, semut yang sudah susah payah menghindar tetap saja tergilas mobil. Walaupun mereka hanya semut, tapi aku masih dapat mendengar kutuk serapah yang keluar dari mulut mereka. Kutuk serapah yang di tetapkan dalam undang–undang lalu lintas bangsa semut. Tapi, jangankan memberlakukan undang–undang tersebut, menghindarkan diri dari kematian saja tidak bisa.

Aku memutar haluan penglihatan ku ke sungai dibawah jembatan. Air mengalir menggiring karung–karung yang berisi sampah–sampah yang menebarkan bau busuk mencucuk hidung, tapi bagiku itu sudah biasa dan sudah menjadi teman bisu setiap hari. Lamunan ku berhenti di selembar kertas yang sudah basah di sungai. Aku penasaraan. Segera tubuh yang kotor ku ceburkan kedalam sungai. Aku melihat lukisan seaorang bayi yang menangis di atas tungku api yang membara. Kertas itu ku letak diatas kardus, dimana aku terbangun. Aku menyelam di air keruh yang banyak dihuni benda mati, sampah. Dia memberikan kepadaku gagasan, dan berkomentar kalau aku harus meninggalkan kolong jembatan dengan cara menyelam dengan mereka setiap hari. Akupun berpikir, apakah senandung kesunyian yang ada disekitarku akan menjadi penggiring jenazah negeri ini ke kuburan ?

Ku luangkan segenggam waktu untuk menatap negeri ku dan tersenyum sederhana. Semoga saja Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada seluruh peminpin di semesta dunia ini.

“ Aku tidak boleh mati. Aku harus hidup. Aku belum makan.”

Dengan lompatan kecil, aku dapat menggapai tepian sungai. Longsoran memanjang melewati jembatan yang dilintasi para pengemudi marchedes hingga dipenghujung penglihatanku. Aku telah naik dipinggiran sungai dekat bekas longsoran. Baju yang melekat ditubuh ku kuyup, melukiskan kurus badan yang kumiliki. Sesaat kemudian, aku mengangkat alat semiran ketepi jalan. 

Meski hari  masih terlalu pagi, tapi mata ini, mata ku, telah lelah memandangi gedung–gedung pencakar langit, aku lelah dengan segala kebohongan dibaliknya. Tak jarang dibalik gedung tersebut bertebaran rumah-rumah kardus, balita kekurangan gizi, anak-anak jalanan yang seharusnya berseragam sekolah. Aku lelah menunggu suatu keajaiban yang tak kunjung datang. Inilah karakteristik yang amat kental di kota Metropolitan negeriku.

Sambil menunggu pelanggan, aku biarkan matahari mengangkat air dari bajuku hingga kering. Aku melihat pelajar – pelajar TK, SD, SMP, SMA, bahkan juga para Mahasiswa. Tidak jarang dari mereka yang diantar jemput dengan mobil mewah. Aku membayangkan diriku membawa setumpukan buku. Aku membayangkan kalau Aku menyandang tas dengan gagah, dapat belajar bersama dengan yang lainnya, hingga dapat menghilangkan tumpukan sampah di pinggiran sungai. Tapi anganku hanya berputar – putar di dalam kepala. Aku bukan siapa – siapa dan tak punya apa–apa. 

Dari arah kanan, terlihat satu mobil mewah menuju ke arah ku. Mobil berhanti. Perlahan-lahan kaca jendela terbuka. Di dalamnya duduk seorang anak yang gemuk, lagi makan pisang Ia rupanya. Tanpa  melihat lagi, kulit pisang dilempar keluar menyambar mukaku. Mobil tancap gas dan melaju dengan kencang tanpa mengingat lagi kulit pisang yang ditimpukkan ke muka ku. Tapi tak apa-apa bagiku, toh cuma kulit pisang, dari pada mengobral kebusukan kesana kemari. Anak itu menghilang bersama mobilnya di tengah lautan Jalan raya.

“ Aku tidak boleh mati. Aku  tidak boleh marah. Aku belum makan apa-apa hari ini .”

Selang waktu sekitar 10 menit, sebuah mobil marchedes meluncur kearahku. Aku biarkan saja hal itu. Aku tidak ingin di gilas seperti semut, aku tidak mau lagi ditimpukin dengan kulit pisang. Sebelum sampai dihadapanku, seekor semut datang dengan nafas ngos–ngosan dan berteriak dari kejauhan.

“ Jangan layani manusia yang satu ini, dia adalah orang yang tidak kenal belas kasihan. Dia yang menggilas teman–temanku. Meski aku hanya seekor semut, aku juga warga negara Indonesia yang sah! Jadi, aku juga berhak mendaapatkan peradilan yang layak, apalagi negara ini adalah negara demokrasi. Emang dunia ini punya bapaknya, apa? seenaknya saja menggilas, macam tidak punya dosa saja”

Mobil marchedes berhenti dihadapanku. Terang sekali aku melihat plat mobil B 1923 AH. Perlahan–lahan kaca jendela terbuka, di dalamnya seorang lelaki berdasi, berjas hitam, berkaca mata hitam, bersepatu hitam, dengan mobil hitam yang dibawanya. Dia melirik kearah ku. Semut yang tadi berdiri di hadapanku, berlari ketakutan dan masuk ke dalam celana pendek yang Aku kenakan.

Lelaki itu sudah berdiri dihadapanku. Badannya gemuk sekali. Jelas dia tidak pernah kekurangan makanan sepertiku. Dia menatap seolah–olah ingin menerkam. Kemudian dia melepas sepatu hitam dari kakinya, lalu menyodorkannya kepadaku. Aku mengerti kalau dia ingin sepatunya disemir olehku. 

Aku mulai menyemir sepatu itu. Dia terus berdiri mengawasi ku setiap detiknya. Aku terus menyemir sepatu bermerek mahal itu, menurutku. Sesekali Semut keluar dari kantong celana dan melirik laki–laki gemuk di hadapanku itu, lalu masuk kembali.

Langit cerah dengan sinar terik. Tapi aku merasa ada kekurangan diantara semua ini. Walaupun di hadapanku berdiri kokoh pencakar langit, tapi aku merasa kekurangan yang sangat. Sekarang tidak ada lagi kicau burung di pagi hari, tidak ada lagi tupai melompat kesana kemari, tidak ada lagi Kijang berkejar–kejaran, Aku tidak melihatnya lagi. Jelas karena tanah dimana aku menjejakkan kaki yang dahulunya hutan yang damai telah berubah menjadi kampung Metropolitan yang dihuni oleh alien–alien bumi. Syukur–syukur kalau mereka ingat, bahwa mereka telah merusak komunitas sosial dan kehidupan yang asli, kemudian membangun kembali rumah mereka dan memeliharanya dengan baik. 

Sepatu yang ku semir telah selesai. Aku menyodorkan kembali kepada lelaki gemuk itu. Segera dia memasang sepatunya dan merogoh dompet disaku belakang. Dia mengeluarkan uang Rp. 20.000,00. Baru kali ini aku melihat uang sebanyak itu. Aku mengembalikan uang tersebut dan menggeleng–gelengkan kepala. Rasanya terlalu berat tanganku memegang uang tersebut. Mungkin Dia marah dan merasa dihina sehingga dia membuka kaca mata hitam yang mencantel di kupingnya. Dia memandangku dengan tajam, seolah–olah biji mata yang mengkilap dengan terpaan cahaya matahari seperti mendesak mau loncat keluar.

Sekali lagi Dia menyodorkan Uang tersebut dan jawabanku adalah gelengan kepala.Mungkin dia mengerti maksudku,Dia merogoh kembali dompet yang ada di saku belakang dan segera mengeluarkan lima lembar uang ribuan.

“ Ini “
            “ Tidak “
“ Kenapa ….. ? “

Langit yang tadi cerah kini berubah mendung dan meneteskan gerimis, menyiram bajuku yang telah kering. Suasana hening tanpa suara. Dia menjongkok di hadapanku dan tersenyum simpul memperlihatkan gigi–gigi yang saling tindih.

“ Siapa namamu ? “
            “ Tidak “
“ Hujan yang jatuh dari langit tak henti. Ayo sebut saja, siapa nama, namamu. Atau daun kering yang sangsi terhadapmu ? “.
            “ Tidak “
“ He, merahlah ujung–ujung tanah. Katakan siapa nama, namamu
            “ TIDAK “

Laki – laki itu berdiri, memasukkan uang kedalam kantongnya. Dia bebalik dan menuju kemobil marchedes yang diam di tepi jalan. Sebelum masuk, aku memanggilnya kembali ke tempat semula .

“ Apa ? “
            “ Tuan, kenapa Tuan tadi tidak membiarkan semut lewat dengan selamat kenapa tuan menggilas mereka ? Apakah ada jaminan asuransi jiwa buat mereka sehingga tuan seenaknya saja menggilas mereka ? Ataukah  tuan membeli kesewenang–wenangan ini di supermarket? Ataukah tuan mendapat bingkisan kado dari raksasa Gedung Putih berupa hak menindas sesuka hati? Atau tuan mendapat hak istimewa dari Allah Azza wa Jalla untuk mewakili atau bahkan mengambil alih tugas malaikat Israil? Sungguh orang macam tuan bagusnya sudah dimusiumkan, agar kelak dapat dilihat generasi yang akan datang sehingga dapat terhindar dari penyakit kronis seperti  yang tuan derita. Dan agar tuan tahu, sebenarnya kita adalah sama. Tidak ada yang beda. Hanya saja saat ini tuan memiliki kemampuan, sedang aku tidak. Tapi, dihari selanjutnya kita akan mengenakan pakaian yang sama di tempat yang sama pula. Kalau memang tuan mendapatkan hak istimewa tersebut, aku ingin melihat tuan mencabut nyawa tuan sendiri sekarang! “

Laki–laki itu membuka kaca mata hitamnya dan memandangku dengan tajam. Matanya yang memerah pertanda kalau ia sedang marah besar. Dia merogoh kembali kantongnya, mengeluarkan kembali uang lima ribuan tadi dan meletakkan begitu saja di hadapanku.
“ Tuan, kerendahan hati itu akan menuntun kita pada kekuatan. Sedangkan dengan mengakui kesalahan dan melakukan perbaikan terhadap apa yang terlanjur salah adalah bentuk tertinggi atas penghormatan kita terhadap diri Sendiri “.

Dia menghilang dari pandanganku. Menghilang bersama tepuk riuh kota Metropolitan yang serba acuh. Bunyi–bunyi klakson menyatu di ujung langit. Asap–asap hitam dari pabrik dan kendaraan berevolusi diatas ubun–ubunku menjadi semacam Jala yang siap mengurung apa yang dibawahnya. Matahari terlihat letih kelihatan dari cahayanya yang datang seadanya menyapa ujung-Ujung rambutku, menyanyikan lagu-lagu kesunyian. Jalan tol yang memanjang sejauh ujung penglihatanku seperti ular mati yang diinjak rame–rame. Matahari sudah bersiap-siap menuju ke peraduannya. Aku menatap uang yang ada di hadapanku, menari–nari kegirangan. Ia tahu kalau aku belum makan.

“ hari ini aku bisa makan. Hari ini aku tidak akan mati. Hari ini aku  akan kembali menyelam kedalam sungai bergurau senda dengan sampah “



               Nipah Panjang , Rumah kemuliaan
                                                 Januari 2008

Oleh: Habibi Daeng

2 comments:

Edi Kurniawan at: 3 Juni 2011 21.55 mengatakan...

Komen saja dulu. belum sempat baca... ^_^

Nihayatuzzin at: 10 Juni 2011 15.42 mengatakan...

hahha apalah juga namanya,, yang pasti makasih dah udah mampir. . . :)