Selasa, 26 April 2011

Presiden Garuda

added fromhttp://burung-bird.blogspot.com
Hatiku sedikit gusar ketika mendengar ketukan yang keras di pintu. Siapa pula yang datang malam-malam begini, saat hujan begitu deras, ocehku dalam hati. Hujan memang disertai bunyi guntur yang membuat Si Manis, kucing dengan bulu putih bersih, menyelinap masuk ke dalam selimutku. Bunyi angin bersiuran kencang, meliuk-liuk diantara dahan-dahan akasia. Sebenarnya bunyi derik gerbang cukup jelas terdengar, namun ku pikir mungkin orang itu hanya ingin melintas saja untuk memotong jalan atau hanya sekedar mampir untuk berteduh.

Jam telah berdentang sebelas kali ketika ketukan di pintu terdengar. Dengan gerakan yang malas ku singsingkan selimut dari badanku yang sebenarnya adalah seprai kasur. Aku menguap beberapa kali. Kilat yang menyambar-nyambar ke tanah membuat pagar dan jalan aspal terlihat dengan jelas untuk beberapa saat. Atap rumah yang hanya susunan dari seng-seng tua dan tua kedengarannya sudah tidak sanggup lagi menahan terpaan beribu-ribu panah air dari langit. Beberapa bagian di sudut langit-langit terlihat meneteskan air.
Ku putar kunci dan gagang pintu. Terdengar dua kali bunyi kletek dari kunci yang terlepas. Hembusan keras angin bercampur uap air hujan menghujam di wajahku ketika pintu ku buka empat puluh lima derajat. Wajahku basah. Aku terdiam melihat sosok di depanku. Seorang lelaki, oh tidak, dia tidak terlihat seperti lelaki. Aku bahkan bingung dia manusia atau bukan. Kopiah hitam lekat di dahinya, stelan jas yang rapi terpasang di badan. Yang membuatku terkejut adalah wajahnya. Wajahnya sangat tidak manusia. Wajahnya lebih menyerupai dengan wajah burung pemakan daging dengan paruh yang tajam. Matanya kecil bulat hitam, namun sorot matanya sangat tajam. Selain itu, di dadanya seperti ada tameng baja yang menempel, tameng yang begambarkan bintang, pohon beringin, kepala banteng, rantai dan gambar padi dan kapas.

Sejenak kemudian aku baru tersadar. Ya Allah, bukankah ini adalah replika burung garuda yang sering di pajang di atas dinding kantor kepala sekolah, pak camat, pak bupati, pak gubernur? Bahkan di ruangan rapat anggota dewan pun ada. Tapi apa ini? Manusia setengah burung? Untuk apa dia menemuiku? Lalu dimanakah sayapnya? Ku lihat dia memiliki tangan selayaknya manusia. Mungkin sayapnya dia lipat di balik jas yang hitam yang dia kenakan.

“Maaf, bila saya mengganggu.” Aku tersadar kembali setelah mendengarnya berbicara. Ya Tuhan, dia juga bisa berbicara seperti manusia.
“Ada yang bisa saya bantu?”

“Nama saya Garuda.” Tenggorokanku tercekat hebat seperti kehausan lima hari tiada menegak air ketika mendengar nama yang dia sebutkan.

“Saya Zafran.” Mulutku masih kaku untuk berbicara demi mengetahui orang di hadapanku. Sesaat kemudian aku menyilakan dia untuk masuk agar aku dapat melihatnya dengan lebih jelas. Namun dia menolak. Katanya dia lebih senang berdiri di depan pintu ketimbang harus masuk dan duduk. Hal itu, katanya, karena dia terbiasa berdiri dan hampir tidak pernah duduk seumur hidupnya. Benar juga ya, aku belum pernah melihat burung duduk bersila, aku membatin. Badannya sama sekali tidak basah oleh uap air hujan yang bergerak cepat mengikuti gerakan angin.

“Ada yang bisa saya bantu?” aku mengulangi pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Pemilihan Presiden tinggal beberapa hari lagi. Saya mengharap dukungan dan restu dari anda.”
“Mengapa saya harus merestui anda untuk menjadi presiden? Terlebih karena saya tidak mengenal anda sama sekali. Dan baru kali ini ketika orang pada sibuk menyiapkan pilpres, anda kemudian datang untuk menawarkan diri? Jujur saja, saya bahkan sedikit takut melihat wajah anda yang seperti burung itu.”
“Saya memang burung, tepatnya burung garuda yang sring kalian tempel di dinding-dinding.”
Aku kembali diam kehilangan kata. Pijar cahaya lampu neon memantul di deretan bulu lehernya yang, entah, mungkin ada sekitar empat puluh lima. Tersusun rapi dan mengkilap berwarna kuning keemasan. Seperti tahu dengan mebaca fikiranku, dia melanjutkan berbicara.

“Anda jangan heran. Saya aslinya memang hanyalah gambar replika burung garuda pancasila. Namun, Tuhan memberikan mukjizat kepada saya untuk hidup barang sejenak di bumi indonesia, tempat aku dilahirkan sebagai lambang negara.”

Suara guntur kembali menggelegar disusul kilat yang sambung menyambung membelah langit. Bunyi pantulan air hujan di atao seng semakin keras. Hujan semakin menggila, memberi isyarat bahwa dia masih akan terus mengguyur bumi di tengah malam pekat ini. Aku menoleh ke sudut ruangan. Tetesan air semakin deras dari balik langit-langit yang terbuat dari triplek yang tipis.

Di kepalaku bermunculan begitu banyak pertanyaan. Diantaranya adalah, bagaimana orang di hadapanku ini, yang mengaku bernama Garuda yang mirip burung garuda, memiliki badan manusia dan bisa berbicara layaknya manusia? Sepengetahuanku, hal itu hanya pernah terjadi pada zaman Nabi Sulaiman dengan burung Hud Hudnya. Itu pun, hanya bisa berbicara, tidak memiliki tubuh seperti halnya manusia. Lantas dimana ekornya? Mungkin dia sembunyikan dibalik celana pantalon yang dia kenakan. Andai ekornya terlihat, aku ingin menghitungnya kalau-kalau kurang dari delapan. Aku tertawa geli dalam hati. Tapi tidak ada yang mustahil bila Allah menghendaki.

“Pak Garuda, bagaimana mungkin anda mencalonkan diri sebagai kandidat presiden? Apa panitia pemilihan presiden sudah buta? Lantas orang macam mana pula yang mau menjadi wakil anda? Anda, entah harus bagaimana orang-orang menyebut anda dengan keadaan seperti ini. Apalagi negara ini harus dipimpin oleh seorang manusia yang benar-benar manusia. Sedangkan anda? Waduh, saya pun bingung untuk mengakui anda sebagai manusia atau bukan.”

“Mas Zafran, anda harus tahu bahwa negara ini adalah negara demokrasi. Semuanya mempunyai hak yang sama. Bahkan seekor burung sekalipun memiliki hak yang sama dengan manusia jika dia memang memiliki kapabilitas dan akhlak yang baik untuk memimpin. Apalagi keadaanny seperti sekarang ini, saya merasa harus turun tangan sendiri. Dahulu ketika merah putih belum berkibar dengan bebas di udara, para pejuang dengan semangat pantang menyerah dan dengan hati yang ikhlas rela meneteskan darah mereka agar merah putih merahnya semakin merah. Agar kata merdeka benar-benar terwujud. Setelah kemerdekaan, mereka bermusyawarah dan hasilnya menjadikan saya sebagai lambang negara.

Semangat perjuangan dan darah mereka tertuang dalam tiap sila dan butir-butir pancasila. Dalam lima sila tersebut termuat tujuan besar negara ini didirikan. Tapi apa? Sebagian orang yang diberikan kepercayaan untuk memimpin dan melayani masyarakat dengan baik, eh, malah mereka yang minta dilayani ini itu. Sila pertama pancasila tentang ketuhanan yang maha esa. Namun apa yang terjadi? Mereka merasa menjadi tuhan yang berhak merusak harmonisasi yang telah ada. Bagi mereka akhlak tidak harus mereka yang pakai, jadi mereka boleh tidak berakhlak sama sekali. Apa itu? Dimana penghargaan mereka terhadap para pejuang yang dengan darah mereka mengukir kata merdeka? Maka dari itu, saya harus jadi presiden, meski pada akhirnya aku hanya presiden di dalam hati orang yang terpilih menjadi presiden nantinya.”

Angin malam masih keras terdengar bersiuran di tengah deras hujan. Aku larut dalam setiap kata yang dia ucapkan. Aku seperti mendapat kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di tengah malam. Aku pikir benar juga apa yang dia ucapkan, terlepas dari bentuknya yang separuh manusia separuh burung ini. Bagiku memang benar, seorang pemimpin, hal pertama yang harus dia lakukan adalah membawa rakyatnya pada kemakmuran dengan akhlak yang mulia. Tidak mesti gagah, toh kalau dia berakhlak mulia, maka dia akan gagah dengan sendirinya di mata rakyatnya.

      *  *  *

Masa kampanye telah tiba. Setiap kandidat mengadakan pesta rakyat atau kegiatan semacamnya untuk menarik hati setiap warga masyarakat. Mereka menjelaskan visi dan misinya serta tak lupa jani-janji yang mengiurkan bila dia terpilih nanti. Seluruh ruas pinggiran jalan di penuhi dengan spanduk-spanduk dan baliho bergambarkan kandidat presiden. Aku berjalan sepulang kuliah menuju ke rumah. Di sepanjang perjalanan aku mencari-cari gambar pak Garuda. Namun tak satupun gambar pak garuda yang ku temukan.
Ku dorong gerbang pagar. Terdengar bunyi derikan panjang yang kering. Hari yang cukup melelahkan. Aku langsung menuju kamar dan membentangkan badan sekenanya di atas lantai yang bermarmer putih.
Aku masih berpikir, bagaimana miungkin pak Garuda memenangkan pemilihan presiden kali ini? Sedangkan aku yakin baru saya manusia yang ditemuinya. Lantas dia pun sepertinya tidak melakukan penghamburan uang dengan kampanye selayaknya yang lain. Bagaimana pula bisa KPU pusat bisa meloloskan berkas pak Garuda? Atau mungkin dia tidak memerlukan semua itu? Ah, kepalaku terlalu berat dengan semua pertanyaan yang semakin banyak bermunculan tentang misteri ini. Ku lihat banyak bintang tujuh berputar-putar di atas kepalaku, aku mencoba menggapai salah satunya.

                                                                 *  *  *    
Pagi-pagi sekali warga hutan telah berduyun-duyun demi mendengar orasi dari dalon presidennya. Mereka berkumpul di tengah hutan, di sebuah lapangan denga rumput ilalang yang masih rendah separuh betis. Kawanan harimau sumatra yang terkenal besar dan kuat, menjadi panitia keamanan acara. Rombongan gajah dari way kambas juga telah berbaris rapi menanti dengan setia orasi pak Garuda. Berbagai jenis hewan melata, serangga, dan burung telah datang pula. Bahkan kawanan burung cendrawasih hadir dalam acara kali ini. Mereka saling berbisik dengan kicaunya yang merdu. Semua warga hutan berkumpul dengan tujuan yang sama, dari berbagai hutan di seluruh penjuru tanah air. Namun yang paling banyak hadir adalah warga hutan dari hutan Taman Nasional Berbak dan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Dengan langkah yang mantap, pak Garuda menuju ke podium kehormatan yang tak lain adalah potongan pohon durian yang cukup besar. Seluruh warga hutan bertepuk gembira demi mengetahui bahwa yang dinanti-nanti pun akhirnya segera dimulai. Pak Garuda menyapukan pandangannya kepada barisan simpatisannya sejenak. Setelah semuanya diam, dia mulai membuka suara.

“Saudara-saudaraku sekalian. Saya sebagai kandidat dari warga hutan, mewakili seluruh hutan yang ada di tanah air, merasa terhormat dan bangga atas kepercayaan kalian kepada saya. Sudah semestinyalah wakil dari kita turut andil dalam pembangunan bangsa yang kita cintai ini. Terlalu banyak hal yang diterlantarkan oleh para penguasa, bahkan rumah kita, hutan-hutan ini, sudah hampir habis. Mereka dengan sewenang-sewenang memakan hutan hingga perut mereka membuncit.

Saudara-saudaraku yang tercinta. Demi terwujudnya bangsa yang makmur dan sejuk lagi indah, saya sangat berharap kalian menggunakan hak pilih kalian dengan baik. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa serta kelestarian hutan-hutan kita. Dan yang paling penting adalah pemimpin yang berakhlak mulia, yang cerdas dan peduli terhadap kita, yang bisa menjadi panutan bagi pemimpin dari bangsa-bangsa yang lainnya.”

Sorak sorai membahana di seantero hutan. Teriakan “hidup pak Garuda” dipekikkan berulang kali. Tak lupa alunan musik dari terompet yang ditiup gajah-gajah dai way kambas membuat suasana menjadi lebih semangat. Para burung bernyanyi merdu dengan kicauannya. Burung cendrawasih mepersembahkan tarian yang paling indah. Kibasan ekornya mengukir pelangi. Semua warga bersuka ria setelah mendengar orasi dari pak Garuda. Dahan-dahan pun ikut bergembira, demi mendengar pak Garuda akan berjuang mengembalikan kelestarian hutan.

Keadaan yang begitu damai mendekorasi lapangan ilalang. Mereka bersuka ria sampai matahari hampir tenggelam. Mereka bergiliran memberikan persembahan tontonan pada yang lainnya.

                                                                *  *  *

Pukul 7.00 pagi petugas KPPS telah selesai rapat dan mengambil sumpah. Pemilihan presiden pun telah dimulai. Seluruh warga desa berduyun-duyun memadati area yang dijadikan tempat pemilihan. Cuaca pagi sangat bersahabat. Matahari begitu cerah, namun suasana tetaplah nyaman dan damai. Dedahan akasia di sepanjang tepian jalan setapak mejuju TPS bergoyang ditingkap sapuan angin pagi. Embun masih menempel di ujung-ujung dedaunan, seperti ingin turut serta dalam pemilihan.
Di sebuah TPS yang lain, tepatnya di pinggiran sebuah hutan lindung, para peugas pun telah memulai pemungutan suara. Tempatnya dibuat sedikit lebih luas dari yang biasanya. Ini diperuntukkan bagi warga hutan yang berbadan besar seperti harimau, singa, gajah, atau badak-badak dari ujung kulon, agar mereka dapat dengan leluasa memilih. Di TPS ini pun, warga hutan berkumpul pagi-pagi sekali, sangat bersemangat.

Pemungutan suara berjalan dengan lancar. Para pejabat, ketua RT, Pak Camat, Pak Presiden, para polisi, dan mantan narapidana berbaur menjadi satu, demi memilih calon yang mereka anggap layak memimpin negeri ini. Aku pun telah berada dalam antrian pemilihan. Dalam waktu menunggu giliran, aku masih menampar-nampar pipi. Aku ingin tahu apakah aku sedang bermimpi melihat pemilu yang sangat indah, sampai para warga hutan pun ikut memilih. Ternyata aku tidak sedang bermimpi. Aku tersadar dan segera menuju kamar pilih ketika namaku disebut. Skitar pukul 12.00, pemungutan suara pun dihentikan.

Bayang-bayang tubuh telah setengah panjang badan ketika perhitungan suara dimulai. Dengan tertib dan cermat para anggota membuka setiap surat suara. Para saksi sibuk mencatat rekapitulasi perhitungan tersebut. Sejumlah nama bergantian diteriakkan. Warga yang tadinya ikut memilih kini datang kembali untuk menyaksikan perhitungan suara.

Setelah beberapa saat, salah satu nama kandidat mendominasi yang lainnya. Petugas pembaca surat suara berulang kali meneriakkan nama “Garuda Pancasila.” Hal itu berlanjut sampai akhir perhitungan suara. Terdengar suara warga hutan riuh rendah dalam gelak tawa karena yakin pak Garuda akan terpilih menjadi presiden.

Dan benar saja, Pak Garuda meraih 69% suara dari seluruh jumlah mata pilih. KPU pusat pun mengadakan rapat pleno untuk mensahkan pak Garuda sebagai presiden terpilih. Tak terkira senangnya warga hutan mengetahui pak Garuda menjadi presiden.

Hari pelantikan pun tiba. Aku diberikan undangan khusus untuk datang ke tempat pelantikan presiden untuk mengikuti acara pengambilan sumpah dan pelantikan pak Garuda. Tak terkecuali perwakilan dari warga hutan.
Setelah acara selesai, pak Garuda memberikan pidato pertamanya selaku presiden. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sedikit demi sedikit wajah pak Garuda berubah menjadi wajah selayaknya manusia. Wajah yang putih bersih memantulkan cahaya terang. Seutaas senyum menhiasi bibirnya. Suasana mendadak ramai, semua yang hadir seperti tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun, hal itu hanya berlangsung sebentar karena para warga hutan bertepuk riuh. “hidup Pak Garuda.”


                                 Jambi, Rumah Kemuliaan
                                             7 Mei 2009

Oleh: Habibi Daeng

0 comments: