Jumat, 10 Juni 2011

Langko





Matanya tajam mengawasi tiap tetes hujan yang jatuh di ujung bakkaweng, sesekali di hirupnya kopi yang dibuatkan oleh istrinya dengan dalam-dalam. seperti berusaha meredakan hujan yang semakin deras. Sepertinya cuaca  tidak berpihak dengannya. Diliriknya jam tua berbingkai dua menara masjid kecoklatan dengan harap-harap cemas.  Hari ini adalah len-nya untuk bekerja sebagai fappanambang. Berulang kali matanya dilemparkan ke arah jam tua itu, tapi bulir-bulir air dari langit belum juga ada tanda-tanda akan segera reda. Diraihnya helem berwarna hitam lusuh era tujuh puluhan yang disangkut di dinding rumah. Helem itu masih pas sekali di kepala yang semakin sedikit rambut ikalnya tertinggal. Jidatnya yang lebar mengkilap kecoklatan pas tertutup. Rompi kusam hijau tua yang dipakainya sebenarnya adalah rompi tukang ojek, tapi dia justru senang memakainya, katanya bagus, kantongnya banyak.
 Angin yang dibawa hujan bersama bulir-bulir air dengan dalam dia hisap, mencoba mengartikan dingin pagi hari yang belum juga berkesudahan. Jarum jam tua telah berbentuk seperti boomerang. Dengan sekali teguk, dihabiskannya kopi yang juga sudah ikut dingin. Dimantapkan hatinya, dia berdiri dengan membawa dirigen yang telah beralih fungsi menjadi kotak perkakas peralatan mesin. Tentu saja yang paling penting adalah Engkol mesin. Hujan yang deras diterobos begitu saja. Kini tetes hujan dengan rajin bergelayutan di ujung-ujung baju rompi dan helm yang dia kenakan, seakan bersedia menemaninya untuk memulai pekerjaan hari ini. Mesin TS 45 melolong-lolong memecah deras air yang tertumpah dari langit. Tarian gelombang yang memanjang di belakang pompong seperti mengawal kemana pun dia di tengah deras arus sungai batang hari. 

Wajah Nakibe tertahan dalam dinginya cuaca ketika dia melihat kawannya telah menggantikan pososinya pada hari ini. Dia tidak menyangka jika ancaman yang diucapkan oleh kepala pelabuhan beberapa hari yang telah lewat sewaktu musyawarah di pelabuhan menimpanya. Pompong yang dia bawa tidak jadi merapat di pelabuhan yang penuh sesak dengan manusia itu. Dipandangi dari kejauhan orang yang menggantikannya mengangkat satu per satu sepeda motor ke dalam pompongnya dengan bantuan yang lainnya. Ada hawa dingin yang merasuk kedalam hati Nakibe. Dia menghela nafas yang panjang.

               ~*~                  ~*~                  ~*~


Rumah yang berdinding semen tipis ini dahulunya adalah sebuah gubuk kecil yang terbuat dari dinding-dinding langko, yang hitam, keras, dan padat. Rumah yang selalu membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasa selalu ingin lebih lama, karena sejuknya hawa di dalamnya. Bakkaweng yang menjadi atap rumah menjadi pendingin alami yang diberikan Tuhan. Nakibe ingat sekali bagaimana dahulu rumah ini berdiri, dari hanya pondok yang ukurannya 8 x 5 meter, di atas tanah adiknya. Dan dinding yang keras ini pun dia ingat sekali adalah dinding-dinding yang terpasang di langko dahulu.
Langko adalah sebuah bangunan persegi empat yang menyerupai piramida tak jadi dengan lantai dasarnya berupa tanah yang lebar. Semakin tinggi dindingnya maka semakin mengerucut bentuknya. Namun, langko tidak sampai mempunyai ujung yang mengerucut, dia lebih kepada sebuah nasi tumpeng yang telah dibuka puncaknya. Di bagian dasar, dibuat parit selebar kurang lebih satu meter setengah yang membentuk persegi juga. Di parit inilah dia menyusun sabuk kelapa dan tempurung yang biasanya digunakan sebagai kayu bakar untuk mengeringkan kelapa menjadi kopra. Dia tidak mempunyai kebun seperti tetanga-tetangganya. Dia hanya menggarap kebun mertuanya dan menyediakan jasa langko miliknya kepada para petani kelapa. Dari kerja itulah dia memberikan makan kepada anak bininya.
Namun sekarang, kepingan-kepingan dinding langko itu telah beralih tugas sebagai bagian dari rumahnya. Rumah yang sempat menyisakan kisah sedih. Dahulu, sebelum tanah tempat rumah itu berdiri dibeli olehnya, tanah itu adalah milik adiknya yang punya kehidupan lebih dari cukup di kecamatan. Sudah hampir 1 tahun waktu itu rumahnya (gubuknya) berdiri di sela-sela tingginya bangunan walet dan rumah-rumah tetangganya.
Selepas pulang dari jum’atan, seperti biasanya nakibe singgah di rumah adiknya, bersilaturrahim. Tidak seperti biasanya, adiknya kini langsung menghampirinya tanpa basa basi lagi memulai kalimat yang cukup pedas.
“aku nak jual tanah tuh bang, jadi siap-siap be angkat patok rumahmu”
Nakibe terkejut mendengar kalimat yang diucapkan adiknya. Dia tidak mengira dan bahkan tidak akan pernah tahu kalau adiknya akan mengatakan hal itu. Memang, sebelum menginjak beranda rumah adiknya, dia mulai merasakan ada hal yang aneh entah apa itu.
“aku nak jual tanah tuh dengan toke cina yang di pasar. Dia mau membelinya dengan harga yang mahal, ratusan juta bang.” Adiknya kembali melanjutkan perkataannya.
“apa dak salah, dek? Abang nanti tinggal dimana kalau tanah itu dijual? Di mana lagi tiang rumah mau ditancapkan?” nakibe berusaha memberikan pengertian kepada adiknya agar memikirkan kembali rencana yang akan dia lakukan.
“terserah abang lah nanti mau tinggal dimana, yang pasti aku mau untung yag berlipat dari hasil penjualan tanah itu nantinya. Kalau bisa dalam waktu 4 hari abang sudah bersiap-siap untuk memindahkan gubuk abang tuh” adiknya berbicara dengan nada tinggi. Dalam hatinya dia sangat marah dan sedih juga. Betapa tidak, adiknya sendiri, yang dia asuh sejak kecil kini malah mengusirnya. Nakibe berusaha kembali memberikan pengertian akan keadaan keluarganya. Namun adiknya tetap bersikukuh untuk menjual tanah tersebut. Akhirnya dia mengatakan kepada adiknya bahwa dia yang akan membeli tanah tersebut, meslipun harus dicicil dalam waktu yang sangat lama. Dia punya keyakinan yang kuat bahwa suatu saat nanti dia tidak akan diremehkan lagi oleh orang lain, terlebih lagi oleh adik kandungnya sendiri. Dia menaruh harapan besar kepada anak-anaknya, itulah mengapa semua anaknya diusahakan untuk sekolah. Banyak orang yang mencibir apa yang dilakukannya itu. Rumahnya saja tidak pernah jadi, apalagi harus mensekolahkan 4 orang anak, seolah mustahil. itu cemoohan mereka. Namun keyakinannya sangat kukuh, sangat keras, sekeras dinding langko yang kini menjadi bagian dari rumahnya.
Gubuknya sekarang telah benar-benar menjadi sebuah rumah hal itu bisa dinikmati setelah 7 tahun semenjak tiang pertama ditancapkan di tanah adiknya dahulu, sejak hari dimana kain putih dililitkan di fosi bola.
Cobaan demi cobaan terus menyapa kehidupan Nakibe. Setelah menikmati masa-masa tenang yang bebas dari ancaman kehidupan 2 tahun, kini keluarganya kembali digoncang coban.
Pada saat menjelang pemilihan kepala daerah, kampong Nakibe adalah kampong yang paling ramai karena calon bupati dan wakil bupati untuk tiga pasangan calon kepala daerah adalah dari kampungnya. Hiruk pikuk bendera partai menampar-nampar mata di sepanjang sudut kampong. Semua orang stiap hari membicarakan calon kepala daerah yang menurut mereka pantas memimpin dareah. Tidak ketinggalan Nakibe sekeluarga. Sambil menunggu penumpang, dia mendiskusikan para calon kepala daerahnya.
“Siapelah yang menang kagek ya?” ucap Nakibe dengan nada candanya yang khas hingga gigi serinya yang sudah kropos terlihat jelas. sambil berkipas-kipas sobekan kardus teman sesama anggota fappanambang menimpali pertanyaan nakibe dengan nada yang tinggi.
“yang menang pastilah calon yang di dukung bos kita. Dia kan publik figure, seorang yang selalu tampil di tipi, orangnya gagah, sering maen pilem, kaya pulak tuh”
“jadi Bos kita memilih dia ya?”
“iya, betul sangat. Dan kita, sebagai bawahan, diminta untuk ikut memilih pilihannya. Jikalau ada diantara kita yang tidak memilihnya, maka len-nya akan diberikan kepada orang lain”
Nakibe tertegun mendengarkan temannya berbicara. Dia membayangkan lennya diberikan kepada orang lain. Itu berarti tidak ada lagi jalan penghasilan untuk keluarganya. Dia membayangkan keluarganya kelaparan. Dia membayangkan anak-anaknya putus sekolah. Dia tidak mau hal itu terjadi.Kekhawatiran Nakibe semakin tinggi ketika istrinya menjadi tim sukses dari calon yang lain.
Sebenarnya dia juga sangat menyukai calon yang didukung oleh istrinya. Betapa tidak, dia orangnya sangat bermasyarakat, tidak membeda-bedakan, dan juga pengetahuan agamanya lumayan baik, dan sangat rendah hati. Terlebih lagi calon tersebut sudah kenal dekat dengan keluarganya karena dia pernah menjadi guru ngaji salah satu anaknya. Dia juga tidak sungkan-sungkan untuk dating ke acara yang dibuat masyarakat ditengah kesibukannya yang lain. Namun, demi keluarganya, Nakibe tetap menguikuti kemauan Bosnya agar memilih calon yang dia usung.
Pada hari kampanye akbar, calon yang didukung oleh istrinya melakukan kampanye besar-besaran di kampong. Terlihat iring-iringan pejabat dan artis dari ibukota dan provinsi memenuhi jalan Delta. Tidak ketinggalan masyarakat kampung yang sangat ingin melihat artis. Tidak jelas apakah mereka datang benar-benar sebagai pendukung atau hanya ingin melihat keramaian. Bahkan tersiar kabar bahwa tim sukses calon Bosnya menyebar mata-mata di keramaian itu. Mereka akan merekam, memfoto, melihat siapa saja yang datang ke acara itu. Mereka memantau anggota fappanambang apakah juga ikut-ikutan dalam acara itu.
Matahari mulai turun dari puncaknya, namun teriknya semakin terasa. Hal itu tidak mengurangi jumlah orang yang berseliweran dijalanan. Hal itu juga tidak menyurutkan keinginan Nakibe untuk datang ke acara tersebut, demi melihat calonnya yang dia senangi. Meskipun dia tidak bisa memilihnya pada hari pemilihan. Dengan meminta tolong kepada anaknya, dia pergi ke perhelatan itu.
baco’, tolong antarkan bapak ke lapangan ya. Bapak nak lihat acaranya. Jangan kau lewat di depan kantor camat. Aku tahu disana banyak mata-mata. Kita pakai jalan yang lain saja. Kita lewat kuburan Parit Tengah. Lewat situ lebih aman, meskipun jalannya tidak bagus”
Anaknya patuh mengikuti nasehatnya. Bunyi mesin Honda Karisma tua mendesau-desau, dan beberapa kali terdengar bersin ketika melewati jalanan yang buruk, jalan yang patah, yang menanjak dan becek. Jalan yang ditempuh cukup jauh karena memasuki areal perkebunan kelapa. Sengatan terik matahari tidak mengurangi semangat nakibe yang duduk dibelakang anaknya. Sepanjang perjalanan dia selalu berbicara kepada anaknya alas an mengapa calon yang dia senangi itu pantas memimpin daereahnya.
Setelah hamper setengah jam dalam perjalanan, akhirnya nakibe sampai di sebuah lapangan yang sudah sesak dengan manusia. Namun dia lewat belakang panggung, dia sengaja tidak lewat gerbang depan. Dia takut terlihat oleh para mata-mata. Dia Cuma ingin melihat-lihat saja. Dia akan tetapi janjinya untuk memilih calon yang diusung oleh Bosnya, demi keluarganya.
                                                      ~*~                    ~*~                     ~*~    

Hari pemihan kepala daerah telah berlalu. Dan  masyarakat kampung sudah mengetahui siapa calon pemenang yang akan menjadi kepala daerah. Di pasar dan di sepanjang jalan terdengar ramai ibu-ibu dan anak-anak gadis tersenyum gembira sambil bercerita tentang calon yang diusungnya menang. Calon yang berparas tampan dan sering terlihat di tipi.
Pagi-pagi sekali Nakibe bersiap dengan segala peralatan yang selalu dia bawa. Rompi tukang ojek berwarna hijau tua yang sudah pudar dengan kantong yang banyak. Helem hitam kecil yang dia beli di tahun tujuh puluhan. Sebuah dirigen minyak tanah ukuran lima liter yang telah beralih fungsi menjadi kotak perkakas mesin. Terakhir adalah secangkir kopi mais. Semuanya sudah lengkap meskipun, cuca kurang bersahabat. Hujan deras menyambutnya pagi sekali. Namun deras hujan tidak menghalangi langkahnya menuju pompong-nya di belakang rumah. Dia berangkat dengan harapan yang besar, penumpang akan ramai.
Tarian gelombang yang timbul karena laju pompon dan dorongan kipas mesin meliuk-liuk dan terlihat berbintik-bintik coklat ditimpa tetesan air dari langit. Belum sampai Nakibe ke pangkalan pelabuhan, dia menurunkan gas mesin pompongnya. Dia tertegun melihat jumlah pompon yang sudah merapat di pelabuhan. Meskipun hujan cukup deras, kerumunan orang di pelabuhan membuat tempat itu penuh sesak, berebut ingin segera turun ke dalam pompon. Kini tidak jelas apakah air yang mengalir di pipinya adalah air hujan atau air yang berebut keluar dari mata tuanya seperti para penumpang yang berebut turun di pelabuhan. Riak gelombang panjang yang menari-nari semakin lama semakin hilang.
Dengan desahan nafas yang panjang dia putar kemudi pompongnya kembali kea rah rumahnya. Wajahnya semakin pucat karena kedinginan. Tapi, seorang nakibe adalah seorang bapak yang keras, seperti halnya papan-papan yang menempel dirumahnya itu, papan langko.
Catatan:
  • Bakkaweng                 : atap yang terbuat dari daun rumbia
  • Fappanambang          : orang yang menjual jasa mengantarkan penumpang
  • Len                              : giliran atau jatah kerja
  • Langko                        : tempat pengeringan kelapa menjadi kopra
  • Nak                             : ujaran yang berarti mau
  • Tuh                              : ujaran kata tunjuk yang berarti itu
  •  Fosi’ bola                    : tiang paling tengah yang mempunyai hubungan langsung dengan kayu  penyangga rumah
  •  Kagek                         : ujaran yang berarti nanti
  • Baco’                          : panggilan kepada anak laki dalam suku bugis, sama halnya dengan kata Bujang.


 Oleh: Habibi Daeng
                                  Jambi, Kampus Biru, 10 Juni 2011

13 comments:

Edi Kurniawan at: 10 Juni 2011 10.30 mengatakan...

mantap broo.... ^_^

Nihayatuzzin at: 10 Juni 2011 14.27 mengatakan...

Alhamdulillah,, berbagi cerita saja kando. . .

Ani at: 10 Juni 2011 16.09 mengatakan...

Selalu menarik membaca budaya lain ..

Nihayatuzzin at: 10 Juni 2011 17.27 mengatakan...

@mba Ani,, berpartisipasi dalam menjaga jadi diri bangsa kita sebagai bangsa yang kaya dengan budaya mba',, hehehe

Awaluddin Jamal at: 10 Juni 2011 22.08 mengatakan...

ceritanya menarik..

hanya saja saya belum ngeh dengan ending ceritanya, saya tidak begitu mengerti. he he..

sepertinya beberapa istilah tidak asing bagi saya, tapi menjadi pertanyaan karena rasanya ceritanya tidak berada di tempat yang biasa mendengar istilah-istilah ini.. bisa dijelaskan kah ???

salam hangat sappo..

Gaphe at: 10 Juni 2011 23.07 mengatakan...

bagus banget cerpennya.. khas bahasa yang dipake bahasa bugis yah? betul dek?..

kita orang makasar to?.. mari ki, sama-sama baca cerpen ini bagus!..

*sok-sokan logat makassar. hehehe.

iya nih, saya juga lama nggak mampir sini.. *sok sibuk soalnya*

Nihayatuzzin at: 11 Juni 2011 14.07 mengatakan...

@Bang Awal,, aku pernah ikut pelatihan menulis yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) beberapa kali, dan sempat berbincang tentang bagaimana membuat ending dari sebuah cerita. pada kasus cerpen ini, endingnya memang tidak dibuat jelas, namun lebih diutamakan pada pesan yang tersirat pada kalimat terakhirnya, "Tapi, seorang nakibe adalah seorang bapak yang keras, seperti halnya papan-papan yang menempel dirumahnya itu, papan langko." semoga bang awal bisa menangkap pesannya, hehehe. mengenai tempat yang aku sebutkan di dalam cerpen, dengan senang hati akan aku jelaskan. :) Aku adalah putra bugis yang lahir di pulau sumatra, bang awal, dan belum pernah sekali pun menginjak tana ogi'. latar cerita ini adalah di provinsi jambi, tepatnya di kecamatan Nipah Panjang kabupaten Tanjung Jabung Timur. logat yang ada dalam cerita adalah percampuran logat bugis Wajo' dengan dialek masyarakat Nipah Panjang yang sangat majemuk. :)

@Mas Gaphe,, wuih yang baru jalan2 ke bali, hehehe. pengen juga ah. . . Ide penulisan cerpen ini sebenarnya sudah ada 3 bulan yang lalu,, lama saya endapkan hehehe. mengenai istilah2 yang aku pakai,, memang benar, adalah bahasa bugis. aku bugis Wajo' mas, hehee. jadi bisa ki juga berbicara dalam bahasa makasar toh? :)

M. Rudini at: 11 Juni 2011 14.26 mengatakan...

bagus ceritanya bang...

Awaluddin Jamal at: 11 Juni 2011 14.42 mengatakan...

wah rupanya bugis wajo yah..

pantas, saya menemukan beberapa ciri khas suku wajo dalam pengucapan istilah-istilahnya..

misalnya fosi' bola.. dimana di beberapa suku bugis lainnya disebut dengan posi' bola.. beda penggunaan huruf F dan P.. he he..

mudah2an suatu hari nanti sappo bisa menginjakkan kaki tanah leluhurnya.. :D

Nick Salsabiila at: 11 Juni 2011 19.51 mengatakan...

selalu mengalir..seperti biasa...cakeeeppp...
keep writing mas...speechless baca karya2nya...^^
saya tunggu jejaknya di blog saya...

Nihayatuzzin at: 12 Juni 2011 14.50 mengatakan...

@Bang awal,, iya bang, PUBUKESUMA, hehhe Putra Bugis Kelahiran Sumatra. aamiin, semoga suatu saat bisa ke Tana Ogi'.

@ukhtina Salsa,, Alhamdulillah. . . senang bisa buat karya yang enak dinikmati para pembaca. (jadi malu neh ma ukhty,, karena belon ada koment apa2 di blog ukhty,, hehehe segera meluncur dah. . . wait me ^_^ )

Taufiqillah at: 18 Agustus 2011 21.17 mengatakan...

Kayak bapak aku foto orang yang bawa pompong tuh.

Nihayatuzzin at: 28 Agustus 2011 00.07 mengatakan...

Taufiqillah,, kayaknya memang iyalah tuh. . . hahaha