Senin, 16 Mei 2011

Meminjam Asin Air Laut



added from bumi-nusantara.blogspot.com
"Bo'ong, kan??" Niha menjawab berbicara lewat telepon genggam. Ramli di samping Niha dengan irama langkah yang sama sambil menerka-nerka dengan siapa Niha berbicara. Jalan setapak yang dilalui mulai lengang. Pijar-pijar cahaya lampu di pinggir jalan merayap di sepanjang trotoar. Ramli masih mendengar percakapan tersebut dengan jelas, namun dia mulai tidak faham ketika mereka berbicara dengan bahasa yang kurang dia fahami. Ramli dan Niha masih berjalan berdampingan, melewati beberapa kios makanan sepanjang trotoar menuju pantai. Dalam hati Ramli sedikit resah. Resah karena Jakarta adalah kota terakhir dalam agenda perjalanan. Hal itu berarti bahwa, hanya pada malam ini Dia dan Niha dapat bersama-sama dalam waktu yang luang.

    "ngeles, kan? pasti ngeles lagi, neh. . ." sekali lagi percakapan mereka sangat jelas terdengar oleh Ramli. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia terkejut mendengap ucapan Niha yang baru saja. Ramli mempercepat langkahnya sehingga Niha tertinggal hampir lima meter di belakang. samar-samar percakapan yang berbaur dengan suara siuran angin pantai itu masih terdengar oleh Ramli. Dia berusaha mengalihkan perhatiannya ke Roller Coster yang sedang melaju dalam lintasannya. Sayangnya, hal itu tidak dapak banyak membantu, ucapan Niha yang barusan dia dengar memantul-mantul di gendang telinganya. Dia terus melangkah menuju pantai. "Mungkin ini adalah jawaban untuk semuanya" batin Ramli.

                                                           *         *         *

    Sepertinya buih busa dari ombak di tepi pantai telah bersatu dengan irama malam, menyanyikan kelam yang semakin tenggelam di bawah temaram cahaya gemintang. Pijar-pijar lampu di tepi jalan tengah berbisik dengan gelap, meminta ijin agar cahaya dapat menari gembira meskipun hanya di sekeliling bola lampu saja. Gerombolan pemuda dan pemudi masih asyik mengukur luas keliling pantai dengan langkahnya. Banyak pula yang begitu serius berdiskusi dalam remang-remang cahaya, atau sedang memancing. Sepertinya mereka lupa membawa jam dan tidak pandai membaca bintang. Mereka lupa mengajak waktu. 

            “Eh, Bengong aja dari tadi. Ada apaan?” tiba-tiba Panji datang dari belakang menepuk pundak Ramli. Ramli yang dari tadi duduk di atas coran beton yang berfungsi sebagai penahan tanah di pinggiran pantai tidak merasa terkejut. Dia sedang menerjemahkan riak-riak ombak yang sampai di pantai dan menyapa kakinya.

            “Yang pastinya ada saya, dong”
            “Yee. . . malah bercanda, anak-anak pada nyariin tuh, ngajakin makan.”
            “Ga ah, aku masih kenyang” Ramli menjawab dengan suara datar yang seadanya, dengan helaan nafas yang panjang.
            “Bener neh, ga ada apa-apa?”
            “bener kok, ga ada apa-apa.”
 
            Panji melangkah meninggalkan Ramli, membiarkan Dia larut dalam deru angin pantai. Membiarkan Dia menulis puisi yang kemudian Dia baca tanpa suara dan hanya hempasan ombak yang terdengar jelas. Ramli menatap langit, mencari rasi bintangnya, rasi bintang libra yang menyerupai timbangan. Dia ingin tahu mana yang lebih berat antara keras bunyi hempasan ombak dan gaduh suara dalam suara dalam hatinya. Dia berulang kali menghela nafas yang panjang. Dia melakukan itu agar pipinya tetap kering dan tawar. Namun sudah terlambat, asin air laut telah lebih dahulu menyapa pipinya.

            Irama laut sepertinya tetap sama, terlihat tenang memecah kesunyian di bibir pantai. Beberapa titik-titik api menghiasi gelap laut. Itu adalah lampu badai para nelayan yang melaut malam itu.

            Pukul 9.15 malam, suhu di pantai mulai menurun. Dinginnya mulai mencakar-cakar kulit. Namun hal itu tidak membuat Dia beranjak dari tempat duduknya. Dia seperti telah bersatu dengan orkestra alam, diam tapi mengusik.

            Ini adalah kali pertama Dia datang di pantai Karnaval Ancol Jakarta dan langsung menghabiskan malam di sana bersama dengan rombongannya. Malam itu adalah malam minggu, malam bersantai setelah menyelesaikan rangkaian acara yang cukup padat di beberapa kampus ternama. Kegiatan yang melelahkan karena harus maraton antar kota dan provinsi, dari kota yang paling timur pulau jawa sampai kota yang paling barat. Maka pantai ancol adalah tempat yang tepat dengan rombongan mereka. Namun, sepertinya hal itu tidak dapat menarik banyak perhatian Ramli.

            Hal itu mungkin dikarenakan dia terlahir di daerah pesisir pantai. Jadi pemandangan laut sudah biasa baginya. Dia tengah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang pastinya tidak ada hubungannya dengan laut, pantai, ombak, dan karang. Suatu gema yang terus memantul dalam pikirannya.

            “Bro, di sini ente rupanya. Pantesan dicariin kemana-mana dari tadi ga ketemu-ketemu” Welly berucap dan langsung duduk di samping Ramli. Nardi dan Yusuf melakukan hal yang sama.

            Ramli hanya tersenyum sederhana  yang terkesan dipaksakan, seperti tidak peduli dengan kedatangan mereka.
            “Dah makan ga?” Nardi kembali membuka pembicaraan setelah mereka diam beberapa saat.
            “Ntar aja ah, makannya” suara Ramli terdengar datar, mengalun datar dicelah-celah batu-batu karang.
            “Bener tuh, mendingan ga usah malah, ntar ente diterkam malah, mampus dah” Yusuf menimpali.
            “wah, kupingmu mesti dikorek tuh, suf. Kita ga ada ngomongin macan, tapi makan” nada suara Nardi mengejek.
            “An” Welly memanggil Nardi dengan bibir tersenyum. “bukannya terkam itu begini, kita masukkan kaset ke dalam radio, trus kita pencet tombol REC yang berwarna merah?” tambahnya.
            “Yee. . . neh lagi satu, itu mah ngerekam namanya” welly tertawa memecah bunyi ombak menyadari kebodohannya setelah mendengar penjelasan Nardi.

            “Eh, Bro. Macan kok nerkam? Yang ada dimakan lagi. Ambil pisau, kelupasin kulitnya, trus makan deh” komentar yusuf sambil melempar batu kerikil berbentuk pipih ke laut sehingga memantul empat kali di permukaan.

            “tunggu dulu” suara Nardi terdengar serius. ”Ne ada yang konslet sepertinya. Kalian berdua tadi makan apaan? Tuh CPU-mu pada bau angus.” Nardi menyuil tubuh Welly dan Yusuf.
            “Tadi hanya makan nasi goreng, iya kan wel?”
            “Bener tuh, cuman itu doank.”
            “Trus, napa kok CPU-kalian rusak?” suara Nardi terdengar dramatis.
            “Iya neh, rusak, gara-gara ngeliat Ramli diam aja dari tadi.”
            “Iya tuh, ngapain sih? Ingat istri dirumah? Ente kan belum punya istri, Li” Yusuf sedikit kesal dan ikutan menmandang lurus ke laut.
            “Boro-boro istri, pacar aja belom punya” Welly mencoba menarik perhatian Ramli.
            “lah, trus Niha gimana? Bukannya itu pacarnya?”
            “An, meskipun pada kenyataannya aku bukan siapa-siapa dimatanya, tapi kami udah bersama dalam hatiku” Ramli menjawab pertanyaan Nardi dalam hati. Ramli hanya tersenyum mendengar pembicaraan sahabatnya.

            “Li, aku bingung melihat ente ama Niha. Sebenarnya gimana sih?”
            “Gimana apanya, Wel?”
            “ya, hubungan kalian lah. . .”

            Dengan kembali menghela nafas yang panjang, ditatapnya satu persatu sahabatnya, lalu kembali memandangi laut. “kami, ya. . . seperti inilah adanya”

            “Itu bukan jawaban, Li” Yusuf ikut angkat bicara. Terlihat Ramli sangat bingung. Desir angin pantai timbul tenggelam dalam suara hempasan ombak. 

            “aku bilang apa? Aku sendiri bingung. Aku mengenalnya pertama sebagai sahabat dan saudara, terus kami merasa dekat, dekat, dan dekat. Namun bila aku ingin mengetahui yang sebenarnya, Dia malah pergi menjauhi aku” Ramli menatap ke bawah. Pipinya terasa asin lagi.

            “Sudahlah, bro” Welly melingkarkan lengannya di atas bahu Ramli.”Jangan terlalu difikirkan. Terlalu dalam memang bila ingin mengukur hati seorang wanita. Wanita itu, Li, mudah kok difahamin, tapi yang susah itu adalah mengerti apa yang sebenarnya ia tulis dalam hatinya” Nardi berfilsafat.

            “Kok aku yang jadi bingung ya?” Yusuf berucap dan turun ke tepian pantai, meyentuh busa-busa putih dari ombak.
            “makasih ya, semuanya. Kalian udah baik sama aku. Aku yang memahat di atas batu, namun belum juga rampung.”

            Nardi, Welly, dan Yusuf diam mendengarkan Ramli, lalu menatap wajah sahabatnya yang kian sayu. Welly mencoba menghibur Ramli, namun sia-sia saja. Kemudian Dia mengajak Ramli untuk jalan-jalan sebentar. Hal itu pun ditepis oleh ramli. Mereka memberikan waktu kepadanya untuk sendiri.

                                                                *          *          *

    Kesunyian semakin larut dalam kesunyian. Ombak tiada pernah lelah berlari. Irama desiran angin laut terdengar seperti seruling gembala di tengah padang rumput. Ramli benar-benar bersatu dengan alam, diam dan diam, sampai pada akhirnya Dia tersadar oleh bunyi Hp-nya.

    "kok meneng wae? Hayo, ntar kesambet loh . . . Makan yuk . . . " Ramli membaca SMS dari Niha. Ramli hanya terdiam dan membaca berulang kali SMS tersebut. Tak berapa lama berselang, "Tunggu aja di situ ya, aku beli makanan dulu", seuah pesan kembali masuk.

    Tujuh menit telah berlalu, Niha datang membawa kantong plastik hitam dan langsung duduk di samping Ramli. Ramli mencoba menata suasana hatinya. Dia tidak mau menyinggung perasaan Niha hanya karena badai laut pindah ke dalam hatinya. Ramli mencoba untuk tersenyum, senyum sederhana yang Dia punya. Niha pun membalas senyumannya dengan manis sekali, apalagi dua lesung pipinya juga ikut tersenyum. sangat manis, mengingatkan manis dogan di kampung saat matahari sedang terik-teriknya. senyuman manis dari bibir yang ranum seperti buah anggur yang telah siap panen.

    "Ini ada dua bungkus nasi. Kita satukan aja ya . . . Kita makan sama-sama" Niha membuka bungkusan nasi dan menyatukannya.

    "Makasih ya, Neng" Ramli masih belum bergerak.
    "Kok makasih, ayo, di makan atu . . ."

    Mereka duduk bersila berhadapan di atas pagar beton. Pagar itu tingginya hanya seperempat meter dan lebarnya hanya seperlima meter, cukup untuk tempat duduk. Tidak ada kata-kata yang terdengar selain bunyi hempasan ombak dan angin pantai. Pijar-pijar cahaya lampu pantai memantul dengan sempurna di tubuh Niha yang mengenakan kaos panjang lengan berwarna ungu cerah yang longgar, dengan jilbab putih yang ujungnya menari-nari mengikuti ajakan angin, celana hitam dari dasar kain menutupi dengan longgar kakinya hingga ke mata kaki. Mereka memang tiada berkata-kata selagi makan. Namun, mereka tetap berbicara  jika sesekali tatapan mereka bertemu secara tidak disengaja, mengalirkan arus listrik berdaya rendah yang cukup untuk membuat darah bedesir hebat, dan menyampaikan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

    Tidak banyak suapan nasi yang lewat di tenggorokan Ramli. Barulah lima suapan, dia sudah bersiap-siap menyudahi makan malamnya. Dia berdiri. Niha mengikuti gerakannya dengan tatapan yang tajam, seolah olah berkata "kok udahan? ayo makan lagi dunk. . ." Ramli mengerti dan kembali duduk di hadapam Niha. Kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya dengan gerakan yang lebih perlahan dari sebelumnya.

    Sementara Niha meneruskan makan, Ramli menatap lekat-lekat gadis nan manis di hadapannya. Wajahnya menjadi sangat jelas memantulkan cahaya kuning lampu pantai. Dia ingat dengan penyanyi kondang dari negeri jiran. Niha mirip dengan Siti Nurhaliza bila dia tersenyum, Ramli membatin. Lama dipandanginya wajah itu dan kembali berucap dalam hatinya.

    "Neng, aku sungguh sayang denganmu. Aku tidak bisa lari darimu. Senyummu, tawamu, dan caramu bercerita yang selalu bersemangat, membuat aku selalu rindu kepadamu. Neng, aku tahu sebenarnya dikau juga mencintaiku, hanya saja, dikau memilih cara yang lain untuk mencintaiku."


                            Jambi, Rumah Kemuliaan
                                        26 Februari 2009

Oleh: Habibi Daeng

8 comments:

Andy A.Fairussalam at: 16 Mei 2011 23.07 mengatakan...

banyak hikmah yang kudapat dari sini ^_^

Andy Online

Nihayatuzzin at: 16 Mei 2011 23.16 mengatakan...

Sukron ilaLLAH. . . ^_^ ternyata ga sia-sia nulisnya,,,,

Aina at: 17 Mei 2011 10.35 mengatakan...

Wooo...Niha kayak Siti Nurhaliza...pasti cantik banget thuuu

Nihayatuzzin at: 17 Mei 2011 15.16 mengatakan...

Hehe iya, dia mirip siti nurhaliza, setidakx dlm pndanganku. Lau maw taw orangx yg mana, silahkn buka postinganku yg berlabel puisi, judulna SENYUM ITU MANIS DOGAN, ad fotonya disitu kq ^_^

Thanjawa Arif at: 19 Mei 2011 09.18 mengatakan...

mampir baca saja tanpa komen, salam

PAI IAIN STS JAMBI at: 22 Mei 2011 10.19 mengatakan...

wewww.... keren ey......

PAI IAIN STS JAMBI at: 22 Mei 2011 10.20 mengatakan...

salam dari abang angkat perempuan yang diceritakan di atas hehehe.... :-)

Nihayatuzzin at: 22 Mei 2011 13.46 mengatakan...

@mas Arif,, makasih ya mas dah mau baca ^_^

@mas Jhoe,, belajar2 aja neh mas. salam juga deh, hahaha