Rabu, 25 April 2012

Rumah Jembatan


 Nama ku Dudung, begitulah orang kampung memanggilku. Sebenarnya itu bukanlah nama pemberian orang tua ku. Sewaktu aku masih bayi, kata nenek, nama yang diberikan kepada ku sebenarnya adalah Abdu Pradana. Nama yang keren sebenarnya. Tapi nama itu tidak pernah terpakai lagi bahkan sampai di kartu tanda pengenal pun yang tertulis adalah Dudung. Dudung bin Pallawa. Aku besar di sebuah desa kecil bernama Labuan Jelita. Sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah petani

Jalan utama desa mengukuti alur sungai yang berliuk-liuk seperti ular sawah. Jalan yang hanya selebar dua meter dan masih setapak. Di beberapa tempat memang sudah di Asmen (aspal semen – istilah warga), namun sudah mulai terkikis karena banjir bandang sudah beberapa kali datang. Untungnya warga desa sudah sangat faham dengan kondisi daerah, sehingga tiang rumah mereka dibuat tinggi-tinggi, layaknya rumah panggung. Mereka pun tidak merasa kekurangan bahan karena kampung ku itu sangat dekat dengan hutan, hanya berjarak tiga jam naik Lofi. Sepanjang tepian sungai tumbuh subur pepohonan Rumbia, tempat monyet-monyet berloncatan mencari makan. Air sungai yang mengalir bagaikan sebuah layar tancap yang panjang terbentang karena lumpur sungai yang diaduk-aduk oleh derasnya air terlihat seperti asap hitam dari kebakaran hutan. Warnanya coklat pekat. Warga desa seluruhnya adalah orang perantauan, termasuk aku. Bermacam bahasa biasa aku dengar dalam keseharian ku. Namun, hal itu tidak membuat kami terpisah-pisah.

Di tengah desa  ada gudang sekaligus pabrik pengolah gabah. Tumpukan  dedak kasar yang kuning menggunung menjadi tempat aku dan anak seusia ku bermain guling-guling berbaring. Serasa bermain di tepi pantai saja. Padahal dedak kasar hasil pabrik gabah padi membuat kulit gatal. Tapi hal itu tidak menjadi alas an buatku utuk tidak bermain di sana lagi. Karena selesai disana aku dan yang lainnya langsung terjun ke sungai dari jembatan penghubung desa.

Dari atas jembatan kadang kala aku dapat melihat gerombolan anak-anak ikan Toman yang bergerombol seperti lebah madu saat air mulai pasang di muara parit. Atau melihat temanku yang lainnya menangkap ikan di sela-sela rerumputan gajah yang menjuntai lebat menutupi bibir parit. Atau melihat kakek mendayung lofi yang penuh dengan kelapa bulat. Aku masih ingat dengan jelas ketika pertama kali mengupas kelapa menggunakan bajji,  Ketika pertama kali ikut membasmi hama babi yang sering merajalela di perkebunan kelapa, atau pun pertama kali mengendap-endap untuk mencuri buah jambu merah saat setelah pulang dari sekolah dulu. Semuanya masih rapi dalam ingatan, bermain lilin kecil warna warni dan kembang api di teras rumah, membuat senter dengan lilin yang dimasukkan ke dalam kaleng mentega, atau balapan kapal-kapalan dari kayu yang kipas atau baling-balingnya diputar menggunakan ternaga jalinan gelang karet yang terlebih dahulu dipilin sekuat tenaga. Sangat berbeda dengan sekarang. Rumah jembatan tempat aku dan teman-teman beristirahat ketika lelah berlari, yang menjadi tempat bagi kami untuk melakukan lompat indah,  tempat kami melihat balapan kapal-kapalan dari atas parit, sudah tiada lagi. Pabrik padi dan tumpukan dedak kasar pun sudah menghilang. Warganya satu persatu pindah ke daerah lain. Pohon pisang, yang dulunya ramai dan tempat kami mencari ulat daun untuk umpan pancing pun hampir tidak bisa aku temukan lagi. Semua menjadi semakin sederhana dalam pandangan: rumah panggung yang mulai reot yang berjarak 50-100 meter, jalan setapak berlumpur, parit yang semakin asam dan banyak buayanya.

Teriakan-teriakan kami ketika dikejar para orang tua yang menyuruh segera pulang mengaji pun sudah hilang bersama hilangnya rumah jembatan. Mungkin suatu hari akan kami bangun kembali rumah jembatan, agar kami bisa tiduran seharian di sana. Tapi sekarang kayu bulian sangat jarang dan mahal harganya. Apalagi sekarang jikalau ingin membeli kayu banyak-banyak harus siap berhadapan dengan aparat.


Di rumah jembatan itu pula aku sering kali diminta oleh pak Leman untuk menyanyikan beberapa buah lagu dangdut. Itu karena di rumah kakek tempatku besar memang tersedia ratusan kaset dangdut dan pop, yang setiap hari selepas mengaji ku putar keras-keras sehingga setiap orang yang lewat dapat mendengarnya, bahkan berjoget kalau bisa. Iya, aku ingat. Dia menakut-nakutiku dengan sebotol minyak sayur. Hahaha. Lucu sekali jika aku mengingat akan hal itu. Dia mengancam akan menelan bulat-bulat badanku dengan menggunakan minyak sayur jika menolak permintaannya, maksudnya agar aku dengan mudah ditelan olehnya karena sudah licin tersiram minyak sayur.

Di sana pula aku, yang masih sangat belia, yang kadangkala ingus masih bebas naik turun di muka, mengganggu abang-abang yang sedang selonjoran santai sambil membaca majalah dewasa. Pilem G-30SPKI pun kami tonton ramai-ramai di sana, dengan TV nasional hitam putih, dengan aki yang empat hari sekali harus dicas ulang.

Bahkan, di sana aku ditawarkan sebuah mantra, yang sampai saat ini tidak bisa masuk hati, hati ku menolaknya dengan keras. Ajaran yang melarang menyebut dengan lidah lafaz Allah, alasannya karena takut setan akan mendengarnya dan mantranya tidak akan mumpuni. Sungguh, Rumah Jembatan lah yang menjadi saksi atas penolakanku, Allah tetap Robb-ku, dan syetan adalah musuh.
Rumah Jembatan, setidaknya masih kokoh dalam benakku, benak kami, anak-anak Labuan jelita. Meski kami tidak bisa bersua seperti dahulu. Setidaknya aku, bisa menuliskan cerita ini. Untuk teman-teman yang sudah pulang lebih dahulu.


Catatan:
  •  Lofi: Bahasa bugis, yang artinya perahu
  • Bajji: bahasa bugis, sebuah alat yang terbuat dari besi berbentuk mata tombak yang lebar dan tebal, dipasang diujung sebuah tiang berkaki, yang digunakan untuk mengupas kulit kelapa dengan cara memberikan tekanan dan dorongan terhadap buah kelapa yang sudah kita tancapkan terlebih dahulu di atas bajji.
  • Bulian: adalah sebuah jenis kayu di jambi (mungkin di daerah lain juga ada, dengan nama yang berbeda), yang memiliki struktur yang sangat keras seperti besi dan biasanya berwarna merah gelap dan hitam abu-abu.
 Jambi, 13 Februari 2012, disaat matahari hampir terbenam

5 comments:

meutia rahmah at: 26 April 2012 11.00 mengatakan...

wah, baru kali ini kk berkunjung lagi kesini, hmmmm nice post, keep writing ya by..

habibi daeng at: 26 April 2012 19.21 mengatakan...

iya k3, ne baru sempat posting tulisan, hehehe. BTW, blog k3 sekarang bagus banget k3. . . :)

Kang Harjho 35 at: 26 April 2012 20.27 mengatakan...

wah udah mulai nulis lagi nich... bravo brada... :)

habibi daeng at: 28 April 2012 18.29 mengatakan...

mas Jhoe,, iya nih mas, mulai tumbuh lagi ghirah menulisnya, hehe ada tulisan baru lagi tuh,, chek it out :)

Muhammad Taupik at: 4 Desember 2013 10.39 mengatakan...

Lukisannya bagus bro