Kamis, 07 November 2013

Kami, (Pelit)




Kami dipaksa menggosok bumi sampai putih.
Tak tahu tangan sudah mulai hilang kulit,
Tak tahu keringat sudah menganak parit,
Pun, tak tembus pandang jejak yang mulai bersih.

Kami dipaksa tertawa sengit.
Tak tahu darah menetes perlahan,
Tak tahu nafas mulai tertahan,
Pun, tak bergeming bertumpuk jarak yang semakin pelit.

Ladang-ladang kami buka dengan seadanya tenaga
Kami cangkul kami gemburkan tanah disertai doa,
Jika musim sedang kemarau, mata lah yang mendung agar segera hujan.
Meski tahu mulai mengering, tetap saja kami peras cawan perlahan-lahan.


Jambi, 7 November 2013

8 comments:

Muhammad Taupik at: 20 November 2013 17.28 mengatakan...

apo yang pelit bro?

Tri Susanti at: 20 November 2013 17.37 mengatakan...

sungguh susunan kata yang sangat kuat. seperti berisi bom waktu ya. puisinya ku suka.

habibi daeng at: 23 November 2013 15.33 mengatakan...

Taupik, Adolah bro, ^_^

Tri Susanti, iya mba, diksinya sengaja dipilih yang kuat untuk penggambarannya, penuh emosi, tapi seperti tidak emosi, (nah lho, haha)

M.HAFIZ PUTRA at: 4 Desember 2013 14.28 mengatakan...

Pelit benarlah

mutia ohorella at: 18 Desember 2013 02.52 mengatakan...

Sukaaa....

habibi daeng at: 20 Desember 2013 10.37 mengatakan...

Hafiz, haha memang pelit betullah :D

Mba Mutia Ohorella suka? Alhamdulillah banget dah kalau mba suka, hehe. :)

Kurnia Lestari at: 25 Desember 2013 22.42 mengatakan...

Like this..

habibi daeng at: 28 Desember 2013 23.19 mengatakan...

thank you, danke schoen, xie xie :)