Selasa, 19 Juli 2011

Bulan Sabit di Kota Baru


added from wikipedia[dot]org
Aku melihat kakinya mulai melangkah mendekati ku yang masih duduk di atas motor. Matanya yang bulat besar awas sekali memperhatikan diriku. Tangan kiri menyingkap jaket kulit hingga gagang pistol Kaliber 45 samar-samar dapat ku lihat dalam remang cahaya lampu jalanan yang terhalang rimbunan daun akasia. Cahaya bulan sabit di ufuk timur tersembunyi di gelap awan yang menggumpal kelam.

Adrenalin ternyata memicu jantungku berdetak dengan begitu cepat karena berada dalam kondisi yang seperti ini. Sebenarnya kaki dan tanganku mulai gemetaran. Namun, aku mencoba untuk menyembunyikannya. Aku tak mau dia tahu. Ku lempar penglihatanku satu persatu ke segala penjuru. Ku gerayangi dengan pandangan setiap sudut yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat bersembunyi. Hatiku mulai cemas. Sudah mulai banyak hipotesa yang menggantung di langit-langit pikiran.

Polisi itu semakin mendekat. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku takut melihat gagang pistol yang siap dicabut. Aku turun dari motor. Supra putih yang sudah mulai reot milik Basril aku parkir melintang di tengah jalan besar. Berharap akan ada orang yang berhenti dan berpihak kepadaku. Secara tak terduga mataku menyentuh bayangan helm bergerak-gerak di balik Mega Pro yang di parkir di trotoar. Di bawah rerimbunan pohon akasia. Aku semakin curiga. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri. Dan akhirnya berhasil. Rasa takut yang pada awalnya terlalu menghalangi ku sedikit demi sedikit surut, seiring dengan munculnya dengan perlahan bulan yang kurus dari balik awan yang gelap. Aku tidak lagi memikirkan akibat yang bisa saja terjadi. Aku mencoba untuk menambahkan keyakinanku bahwa yang aku lihat adalah dia.

“Wulan, idi’ ga?”

Sesosok gadis yang masih mengenakan helm tiba-tiba berdiri di balik Mega Pro dan pohon. Wajahnya terlihat sembab. Sepertinya banyak karang-karang garam yang menghiasi pipinya. Dia menatap penuh harap kepadaku.

Iyyek, deng. Ini Wulan, deng, Wulan.” Suaranya parau hampir tak terdengar olehku. Angin yang bertiup di dini hari serasa baru pulang dari kutub selatan, dingin menggigit tulang.

Polisi itu semakin dekat. Aku mulai gugup. Aku berdoa untuk kekuatan hati dan tekad. Kini wajahnya semakin jelas terlihat. Rambutnya yang cepak tipis dengan badan yang tegap semakin menambah angkuh penampilannya. Namun tingginya tidak begitu berbeda dengan diriku. Wajahnya yang bulat kekuning-kuningan diterpa cahaya lampu jalanan seperti juga sedang menutupi kecemasan.

~*~ ~*~ ~*~

“Deng, aku punya kenalan baru. Orangnya sih tidak ganteng-ganteng amat. Gantengan daeng, pun.” Aku tersenyum membaca pesan singkat dari Wulan. Dasar manusia, baru dipuji sedikit sudah melayang-layang.

Wulan adalah seorang gadis berumur 17 tahun dari keluarga sederhana. Anak sulung dari pasangan keluarga berdarah sunda. Ayahnya adalah seorang satpam perusahaan yang aku lewati setiap pulang dari desa ke kota dahulu. Aku mengenenalnya beberapa bulan yang telah lalu sewaktu aku berkunjung di suatu desa di kabupaten Muaro Jambi. Aku menetap di sana beberapa bulan untuk penelitian. Desanya tidak begitu jauh dari kota. Dengan menggunakan sepeda motor kita bisa sampai dalam waktu 45 menit dalam perjalanan santai. Dan memang harus santai karena jalan menuju ke sana banyak terdapat perusahaan-perusahaan, utamanya perusahaan pengolahan minyak makan dari kelapa sawit, pabrik sabun, dan pabrik pengolahan karet, yang tentunya memiliki banyak sekali mobil tronton pengankut bahan olahan yang masih mentah. Apalagi di jalan itu pula terletak sebuah pelabuhan kargo.

Sebenarnya kami pada awalnya tidaklah akrab. Cuma tahu wajah dan nama saja. Meskipun hampir setiap hari kami bertemu di tokonya mas iwan untuk berbelanja keperluan sehari-hari selama di desa. Pernah suatu saat setelah berjumpa di toko, aku bertanya kepada mas iwan perihal dirinya. Mas iwan hanya tersenyum dan berkata kalau dia masih sekolah. SMK. Di kota. Aku menangkap apa yang mas iwan fikirkan. Aku tersenyum dan berlalu dengan membawa belanjaanku.

Suatu hari, sepulang dari sekolah, Wulan tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang sedang hamil besar di perempatan lampu merah daerah pasar. Panik dan takut menguasai dirinya. Takut wanita tadi keguguran di tengah jalanan besar, takut di tilang polisi karena menabrak orang dan tidak punya SIM. Dia bingung harus menghubungi siapa. Ayahnya pasti datang jika dia menelpon, meskipun ayahnya sedang tugas jaga di sebuah perusahaan. Tapi dia takut. Dengan hal remeh temeh saja dia pasti kena labrak dengan ayahnya apalagi kasusnya menabrak manita hamil besar. Menelpon paman? Oh tidak. Ayahnya dan pamannya yang tinggal di perumahan kota baru adalah sebelas duabelas . Bingung harus menghubungi siapa, akhirnya aku juga yang diminta untuk menolongnya. Itulah awal kedekatanku dengan Wulan. Hingga pada akhirnya dia menganggapku sebagai daeng-nya.

“Kenalan dari mana?”
“Dia seorang polisi, deng”

Aku terhenti sejenak membaca “The Professor and the Madman” yang ditulis oleh Simon Winchester. Lama aku merenungi kata-kata Wulan dengan wajah sedikit terkejut bercampur cemas. Potongan-potongan masa lalu yang sudah lama hilang kini kembali terpampang di depan bola mata.

“Lan, hati-hati lho. Polisi sekarang tidak itu banyak yang brengsek. Apalagi yang muda-muda, baru satu-dua bulan jadi polisi. Mereka paling suka pamer seragam dan senjata di depan gadis seperti kamu”

“maksud daeng?”

“Lan, daeng tidak bermaksud untuk melarang kamu dekat dengan siapa pun. Tapi karena dirimu sudah menganggap daeng seperti akangmu sendiri makanya daeng ngomong begitu. Daeng tidak mau dirimu seperti teman-teman daeng dahulu. Mereka dirayu, kemudian jatuh cinta mati, selanjutnya dirusak, dinodai, lalu ditinggalkan. Bahkan ada yang sampai berisi.”

“Tapi kan tidak semuanya, deng!” aku mencium bau emosi yang terselip di setiap huruf dan kata dari pesan singkat wulan. Tapi aku tidak mau kecolongan lagi. Aku harus mengingatkan dia.

“Iya, tidak semuanya. Daeng hanya mengingatkan agar dirimu selalu hati-hati, jangan mudah terpengaruh rayuan mereka. Segala cara bisa mereka lakukan. Mereka itu paling bisa menjajah dan merebut hati gadis-gadis seusiamu.”

Iyyek, deng, Wulan janji. Wulan akan ingat itu”

Kalimat penutup pesan dari wulan sedikit menghembuskan angin yang melegakan hatiku. Kini aku teruskan membaca novel dari penulis buku Krakatau itu. Perlahan demi perlahan aku hilang dari pikiran yang baru saja menghawatirkanku. Aku mulai larut dalam novel. Aku seperti berubah menjadi huruf-huruf yang melayang-layang di bawah pusaran kipas angin di perpustakaan yang kemudian melesat masuk ke dalam setiap paragraf di dalam novel yang sedang ku baca. Seterusnya aku melihat kembali diriku yang tadinya berbentuk huruf-huruf perlahan-lahan menyatu kembali, membentuk badanku seperti semula. Namun, aku melihat diriku tidak lagi berada di dalam ruang baca perpustakaan wilayah. Aku melihat diriku berada jauh dari waktuku yang sebenarnya. Aku berada di tahun 1880-an.

Tiba-tiba saja aku berada di samping seorang lelaki yang sedang tergesa-gesa menuju suatu tempat. Aku tahu namanya, Dr. James Murray. sedang menuju sebuah rumah sakit jiwa di desa Chowthorne, Berkshire County, untuk bertemu dengan seorang lelaki yang menjadi temannya berkirim surat selama 20 tahun tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya orangnya. Dia akan bertemu Dr. William C. Minor, soorang dokter berpangkat kapten dahulunya ketika masih bertugas di salah satu kesatuan angkatan darat amerika. Dia pulalah lelaki yang paling banyak memberikan sumbangan tenaga dan fikiran selama penyusunan kamus bahasa inggris yang paling dikenal di dunia, Oxford English Dictionary. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu namanya. Aku tahu begitu saja. Mungkin karena baris demi baris kata-kata di dalam novel itu, pikirku setengah sadar. Namun mereka tidak menyadarinya.

Setelah bertemu dengan Dr. Minor, aku tidak ikut dengan Dr. Murray untuk pulang. Aku memilih menemani lelaki yang sudah mulai termakan usia di ruangannya yang penuh dengan buku-buku tebal dan lebih tua daripada dirinya, penuh debu tapi rapi berderet di rak buku yang ditempelkan di dinding ruangannya. Menemani dia memilah dan memilih kata, dan menuliskan asal muasalnya kedalam daftar entry yang kemudian dikirim ke Dr. Murray. Aku melihat ketelatenannya. Sampai akhirnya aku menyaksikan kegilaan yang dilakukan olehnya dengan memotong kemaluannya sendiri karena beranggapan bahwa dengan melakukan hal itu maka wanita-wanita yang selalu datang ingin mencumbuinya, tidak akan bisa lagi melakukannya. Tentu saja dia sedang berhalusinasi tentang cerita para wanita-wanita itu. Dengan santai dia berteriak meminta pertolongan kepada penjaga dan menceritakan apa yang telah dia lakukan. Dia kehilangan banyak darah. Aku syok dan tiba-tiba tersadar kembali dari dunia maya yang diciptakan oleh Winchester. Udara yang berputar mengikuti gerak baling-baling kipas angin berusaha ku hirup sedalam-dalamnya. Sekali lagi aku lega.

Aku sudahi mengkuti jejak pembuatan kamus besar itu. Aku lelah melihat Dr. Minor berjibaku dengan tumpukan kertas berisi asal muasal kata-kata. Jam Q&Q Superior hitam di lengan kiriku baru menunjukkan pukul 10 pagi. Masih terlalu pagi untuk hengkang dari perpustakaan. Tapi kakiku telah menuruni tangga demi tangga dari lantai dua hingga tubuhku tersiram sinar pagi matahari yang mulai terasa membakar. Banyak mahasiswa yang datang ketika gedung itu aku tinggalkan. Ada beberapa dari mereka yang aku kenal. Mereka adalah mahasiswa dari organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Meskipun aku tidak secara resmi bergabung dalam organisasi kampus itu, namun aku cukup dekat dengan kebanyakan anggotanya, termasuk ketua umumnya. Aku tersenyum simpul dan memberikan salam. Sekelewat bertanya kabar dan berjabat tangan, dan kembali berlalu menelusuri jalan yang mulai menyempit.

Ketika aku memasuki jalan Lingkar Stadion Mini, aku tiba-tiba teringat dengan kejadian singkat tadi subuh. Aku tertawa geli sediri sambil meneruskan langkah. Iya, itu salahku. Tapi, salahku itu adalah suatu ibadah juga. Aku yang lupa kalau subuh tadi adalah subuh kamis, bukan subuh jum’at. Makanya aku bacakan surah Sajadah, seperti biasanya di subuh jum’at. Sewaktu salam ke kanan aku melihat salah satu jamaahku sujud lagi. Dia sujud sahwi. Dalam hati aku membatin, apanya yang salah samapai harus sujud sahwi. Hanya karena aku membaca surah Sajadah di subuh kamis? Sepengetahuanku sujud sahwi dilakukan apabila kita ada yang terlupa di dalam shalat selain rukunnya. Atau kelebihan rakaat atau kekurangan rakaat. Trus mengapa? Seolah-olah yang aku lakukan merupakan kesalahan fatal. Bukankah memang di sunnahkan memanjangkan bacaan sholat di waktu subuh? Bukankah membaca As Sajadah dan sujud sajadah ketika sampai pada tempatnya dengan hati yang ikhlas akan mendapatkan ganjaran seperti membebaskan kota mekkah bersama Rasulullah dari tangan kafir quraisy? Pertanyaan itu terus berulang-ulang dalam benakku hingga tanpa terasa aku telah sampai di rumah. Pintu gerbang berderik kuat ketika lenganku mendorongnya kedalam, menimbulkan bunyi yang bisa membuat orang yang sakit gigi muntab.

Ku buka pintu. Santar tercium bau harum yang menggelitik selera. Sepertinya hari ini rejeki datang melimpah. Aku tidak tahu siapa yang mengantarkan makanan. Mungkin tetangga sebelah. Atau mungkin ibu Haji. Tapi sudahlah. Cacing-cacing di dalam perut suda terlanjur berebut mencium harum kue yang sudah tergeletak di atas meja. Aku memang belum ada sarapan. Rejeki memang tidak akan kemana. Alhamdulillah, hari ini lidahku bisa makan enak yang banyak. Ada Barobbo’ , Barongko , Onde-onde , dan Bandang . Aku makan dengan lahap. Apalagi isi dompetku tinggal KTP dan SIM C. Makan lumayan banyak membuat mataku seperti ditup-tiup angin pantai.

Baru mau merebahkan badan, si kodok hitam terdengar menyanyikan lagunya Daniel Powter, The Best of Me:

You know I’m hoping you’ll sing alone
Though it’s not your favorite song
Don’t wanna be the wind
There’s nothing left to say. . .

Ada pesan masuk dari Wulan.

“Deng, wulan boleh tidak datang ke rumah? Ada yang perlu Wulan bicarakan.”

“Mmm, maafin daeng, Lan. Daeng tidak enak dengan orang-orang sekitar. Takutnya nanti mereka berfikir yang tidak-tidak”

“Oh, iyalah, deng, Wulan bisa memaklumi. . .”

Huft. Akhirnya badanku bisa aku luruskan juga. Mataku sudah tidak sabaran untuk berselimut. Begitu terpejam langsung melayang-layang. Sebelum tidur aku berharap tidak bertemu dengan Dr. Minor di dalam mimpi. Tidak. Jangan sampai.

Ternyata pengharapanku tidak sejalan dengan alam bawah sadarku. Berbeda saat aku berhalusinasi sewaktu di Puswil , dalam mimpi dia justru dapat melihatku. Awalnnya dia terkejut melihatku yang pendek, berkulit gelap, dan berwajah tidak seperti kebanyakan orang di Chrowthorne. Namun pada akhirnya dia seperti melupakan hal itu dan kembali bercengkrama dengan ribuan daftar kata. Aku melihat menahanku agar bisa menemani hari-harinya sepanjang waktu di ruangan serba putih, di dalam rumah sakit jiwa itu. Memang sih, ruangan untuknya lebih istimewa daripada ruangan pasien pada umumnya. Ruangannya lebih lebar, banyak buku-buku yang bisa dibaca kapan saja. Dia juga mendapatkan hak istimewa; dapat dengan leluasa keluar halaman bahkan keluar dari pengawasan untuk beberapa saat setiap hari, dan boleh memiliki pisau pemotong kertas yang lebih mirip pisau pemotong bawang. Pisau inilah yang digunakan untuk memotong alat kelaminnya. Terlanjur bertemu dengan dirinya, aku gunakan untuk mendapatkan jawaban atas tindakannya yang sangat mengerikan.

Fuang , kenapa fuang melakukan hal itu?”

“Fuang?” mimiknya keheranan. mungkin dia berpikir telah menemukan kata baru yang seumur hidupnya belum pernah dia dengar, dan berniat memasukkan kata yang aku sebutkan tadi kedalam daftar kata yang akan meramaikan kamus bahasa inggris yang sedang dalam proses penyusunan. Aku tersadar kalau aku tidak sedang berada di Jambi, atau setidaknya bukan di Indonesia. Ini adalah Berkshire County.

“I owe you an apologize for making you confuse”
“Mboten nopo-nopo, ngger” Jiah. . . aku tambah terkejut. Mana mungkin seorang Dr. Minor bisa tiba-tiba berbicara dalam bahasa Jawa. Daftar pertanyaanku jadi bertambah.
“Maaf, maksud ku yang tadi itu adalah, Mister.” Dia mulai ternsenyum.
“Jadi mengapa anda melakukannya?” dia menarik nafas dalam-dalam. Menatapku dengan senyum yang mulai tidak terlihat karena terhalang oleh kumis dan jenggotnya.

“Manusia itu tempatnya kesalahan. Dia bisa salah kapan saja. Aku pernah menjadi perwira. Banyak kesalahan yang terlah ku perbuat. Karena itulah, hampir setiap malam, ada saja yang mendatangiku, mengusikku. Tapi lebih sering yang datang adalah Korina-korina yang dekat denganku dulu, dan mereka selalu mengajakku untuk bercumbu. Bahkan yang lebih gila lagi, istri orang yang pernah aku tembak secara tidak sengaja, juga datang dengan keinginan yang sama” dia berhenti sejenak. Aku tahu yang dia ceritakan adalah halusinasinya.

“Aku merasa terlalu banyak dosa. Dengan melakukan itu, aku berharap mereka tidak akan datang lagi.” Aku mengangguk mengiyakan saja.
“Tuan, kok bisa berbahasa jawa? Aku ingin jawaban atas keherananku.
“Anak muda, bukannya segala hal bisa terjadi di alam mimpi?” Aku tersenyum karena lupa dimana aku berada.

Semayup suara ku dengar bunyi ketukan pintu yang berulang-ulang dan memanggil-manggil namaku. Aku tersadar. Ku lihat jarum jam menunjuk arah angka 5. Wah aku terlambat 15 menit untuk azan, pikirku dalam hati. aku terburu-buru mengenakan baju koko pemberian Ibu Haji pada Ramadhan yang lalu. Dengan sigap dan tanpa berwudhu lagi aku hidupkan mikrofon. Sambil melihat jam besar yang tergantung di dinding mihrab dengan pandangan yang masih goyang, aku mulai membuka suara.

Allahu akbar, Allaahu Akbar. . .
Allaahu akbarullaahuakbar. . .” Aku mendengar hiruk pikuk di halaman masjid, sepertinya ramai jamaah Zuhur hari ini, aku membatin.
Asyhadu allaa ilaaha illallaah. . .” Gerbang yang terbuat dari besi berderik keras karena dorongan yang kuat. Aku makin semangat melanjutkan azan. Belum lagi aku lengkingkan suara selanjutnya, datang ibu-ibu menghampiriku di mihrab.

“Baru bangun tidur ya?” aku kebingungan. Orang azan kok diajakin ngobrol? Pikirku.

“Sudah sertengah dua, Man. Tadi sudah zuhuran” aku tersentak. Pandanganku yang goyang tiba-tiba terhenti dengan kata-kata ibu tadi. Astagrirullaah. Aku tersenyum malu dan meminta maaf kepada ibu itu. Aku keluar halaman melihat orang yang ramai. Dengan muka merah karena malu aku jelaskan kalau aku baru bangun, dan tadi jarum jam yang terlihat olehku adalah jarum jam yang panjang, bukan yang pendek. Semenjak hari itu, aku hampir tidak pernah lagi tidur sebelum waktu zuhur lewat.

Sambil membersihkan rumput yang tumbuh liar di halaman, aku masih terpikir dan malu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sambil mendengarkan ceramah Ustad Das’ad Latif yang diteriakkan oleh si kodok hitam, batang-batang rumput aku cabuti. Sesekali aku tertawa cekikikan mendengarkan ceramah yang penuh humoris. Belum habis ceramah, si kodok hitam malah menyayikan lagunya si Daniel.

I hope you found, whatever you’ve been looking for
Just remember where you from and who you are
‘Cause ther’s a thousand lights that make you feel brand new
But if you ever loose your way I leave one on for you. . .

Pesan dari Wulan lagi ternyata.

“Deng, aku lagi di Bahar sekarang”
“di Bahar? Ngapain di sana?”
“aku di ajakin jalan sama polisi itu, Deng” aku tinggalkan halaman Masjid. Entah mengapa aku jadi sangat terganggu dengan mengetahui Wulan ke Bahar dengan polisi itu.
“katanya, dia lagi mengejar buronan, Deng”
“mengejar buronan dengan membawa seorang anak gadis? Ah, menurut Daeng itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal.”
“katanya, agar dia bisa menyamar.”
“ah, abang tidak percaya.”
“terus kayak manolah , deng? Aku sudah di Bahar sekarang.”
“minta dia mengantarkan dirimu segera pulang ke Jambi.”

Beberapa saat tiada balasan dari wulan. Aku jadi khawatir. Nasi yang sudah aku masak tidak jadi aku makan. Hilang selera.

“dia tidak mau, deng. Dia bilang begini, kalau mau pulang, pulanglah sendiri.”
“”lalu?”
“katanya, jam 5 sudah pulang.” Aku sedikit tenang. Tapi tetap saja perasaan curiga membungkus kepalaku.
“ya sudah. Nanti kalau sudah di Jambi, kasih kabar ke Daeng, ya. . .”
iyyek, deng ”.

~*~ ~*~ ~*~

Rerumputan sudah basah oleh embun malam yang membawa hawa dingin. Angin yang bertiup cukup tenang. Sesekali aku dengar derum sepeda motor melewati rumah yang aku tinggali. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku harus memaksa mataku untuk terpejam. Takutnya nanti malah lambat terbangun, dan digedor-gedor oleh jamaah seperti yang sudah-sudah. Aku set alarm untuk bangun jamb 4 subuh. Ternyata bola mataku tetap saja terbuka dan besar. Suara Syekh Ar Rifai yang selalu bisa menyentuh hati dengan bacaan murottalnya ternyata bisa mengelus-elus mataku hinga terpejam. Baru beberapa saat aku dapat terpejam, lagu Daniel terdengar lagi.

Because you had a bad day, you’re taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You said you don’t know, you tell me don’ lie
You work a smile and you go for a ride
You had a bad day, the camera don’t lie
You’re coming back down and you’re really don’t mind
You had a bad day, you had bad day. . .

Dari Wulan lagi. Dengan malas aku buka pesan singkatnya.

“Deng, aku lagi di Kota Baru. Di bundaran. Deng, tolong jemput aku. Aku takut.”
“di bundaran kota baru jam segini?”
“baru nyampe dari Bahar, Deng.” Aku terheyak. Kantuk yang menderaku menghilang.
“katanya jam 5, Lan?”
“ternyata dia bohong, deng. Pokoknya jemput sekarang, deng. Please. Kalau masih mau lihat Wulan besok, jemput sekarang. Wulan takut sekali, deng.”
“Okelah, tunggu di sana ya”
“cepat ya, deng.”

Aku singkap sarung tenun bugis pemberian nenek. Aku raih si kodok hitam. Tidak sempat lagi memakai celana panjang. Dengan celana selutut dan baju kaos biru yang longgar, aku keluar kamar.

“Basril, tolong pinjamkan motormu ya sekarang. Aku mau ke kota baru, penting nian soalnya” ucapku sambil menggedor kamar sebelah.
“apo hal ke kota baru tengah subuh-subuh?”
“adolah, penting nian.”
“tapi minyaknya rest nian tuh”
“tidak apalah. Yang penting ada yang bisa ku pakai ke sana”
“kuncinya di motorlah tuh”
“makasih, bos. Aku pergi dulu”

Suara salamku tenggelam dalam bunyi derik gerbang yang memekakkan telinga. aku harus mendorong sepeda motor sejauh dua kilo meter ke simpang agar bisa mengisi minyak ketengan . Jam 1 dini hari tidak ada lagi SPBU yang buka di sekitar rumah. Aku bahkan sudah lupa berapa kecepatan motor itu aku buat. Yang aku ingat, pedal gas tidak bisa lagi ditarik. Aku dengan leluasa melarikan Supra putih milik si Basril. Angin yang kencang menyapu mata, memaksa cairannya keluar seperti sedang menangis. Dingin tak lagi ku hirau. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Wulan butuh bantuan.

Sudah 5 menit aku sampai di bundaran. Mengitarkan pandangan ke segala arah. Namun tanda-tanda adanya Wulan di situ sama sekali tidak ada.

“Mundur, deng. Di depan kantor Dharma Wanita.”

Aku putar motor ke arah yang dimaksud. Kini aku bisa melihat ada seorang lelaki yang berdiri di tepi jalan, di bawah pohon akasia. Aku berhenti. Dia berjalan ke arahku sambil menyingsingkan sebagian jaketnya. Astaga. Sebuah Kaliber 45 ternggelam separuh di pinggangnya yang sebelah kiri. Aku takut. Gemetaran. Tapi aku tidak mau dia tahu kalau aku sedang berkeringat dingin.

Aku turun dari motor. Supra putih aku parkir melintang di tengah jalan besar. Berharap ada orang yang berhenti dan memberikan pertolongan. Dia semakin mendekat. Wajah yang bulat dengan rambut cepak tipis terlihat kuning di siram cahaya lampu jalanan.

“Mas, bisa minta tolong tidak?” dia memulai percakapan.
“Tolong lihatin teman-teman ku di sana, masih ada tidak. Di ujung simpang jalan sana. Kalau perlu aku bayar dua ratus ribu” lanjutnya sebelum aku membuka suara. Dengan kalimatnya yang terakhir aku dapat sedikit tegar. Sepertinya dia juga sedang mencemaskan sesuatu. Kalau aku menurutin permintaannya, pasti dia akan melarikan wulan lagi, batinku berkata.

“Maaf, aku sedang mencari adikku. Orang tua kami telah menunggu dia dari tadi sore. Aku harus menemukannya sekarang” jawabku dengan sedikit berbohong.
“siapa yang di balik motor itu?” tanyaku selanjutnya.
“oh, itu keponakanku.” Si kodok hitam bergetar hebat, ada pesan masuk.
“deng, ini Wulan yang di balik motor. Tolonglah cepat. . .” kalimat wulan memelas.
“kalau begitu, tegak sekarang, agar daeng bisa melihat dengan jelas” aku menjawab pesan wulan.

Beberapa detik setelah pesan ku kirimkan, aku dapat melihat Wulan yang masih mengenakan helm. Pipinya basah. Suara sesegukan sesekali terdengar.

“Maaf, ya. Dia adalah adikku. Aku harus membawanya sekarang”

Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan polisi itu, aku menarik tubuh Wulan untuk segera naik ke atas Supra putih yang ku bawa. Ternyata dia syok. Lemas. Badannya tidak bisa ditegakkan layaknya keadaan biasa. Dia hampir terjatuh di jalanan. Aku berhenti. Berfikir keras bagaimana caranya agar dia tidak jatuh. Di sisi lain aku harus membawa dia dari tempat itu secepatnya. Takut polisi itu akan menyusul kami. Aku suruh dia memegang tepi jok motor. Namun, tenaganya seperti sudah tidak ada lagi. Ya Allah, maafkan aku. Aku harus melakukan ini. Dengan tangan gemetaran aku raih kedua lengannya agar dapat aku lingkarkan di tubuhku, agar dia tida jatuh. Tangan kiriku menahan kedua lengannya agar tetap memeluk badanku. Sedang tangan kanan memegang setang gas motor. Seumur-umur baru kali inilah aku dipeluk seorang gadis, meskipun dalam keadaan darurat seperti ini. Sepanjang jalan Wulan menangis. Bahu kananku basah oleh air matanya karena pipinya disandarkan disana. Ya Allah, maafkanlah hambamu ini karena harus melakukan ini, pekikku lirih dalam hati. Entah apa tanggapan orang apabila hal ini terjadi disiang hari. Seorang takmir masjid berpelukan mesra di atas motor? Ya Allah sekali lagi maafkan hambamu ini karena harus melakukan hal ini, batinku.

Kini aku bingung harus membawa Wulan kemana. Ke tempatku? Sangat tidak bisa. Apa kata orang-orang nanti, takmir masjid menyimpan seorang gadis dan bermalam? Oh tidak. Akhirnya aku ingat ada tetanggaku Mira, seorang mahasiswa keperawatan. Tanpa menunggu lebih lama, aku ketuk pintu rumahnya yang berwarna biru laut. Dia membuka pintu dengan muka kusut dan terkejut. Tanpa basa-basi aku ajak dia berbicara sebentar dalam bahasa bugis. Sepertinya dia mengerti keadaanku. Ketika pintu rumah dibuka lebar-lebar, dengan guyuran cahaya lampu neon, barulah aku bisa dengan jelas melihat tubuh wulan. Dagunya balu, bajunya di bagian punggung kotor. Celana penuh bercak-bercak tanah. Aku dan Mira saling pandang.

“Lan, sekarang ceritakan semuanya, mengapa baru pulang, mengapa dagumu balu, mengapa pakaianmu kotor, mengapa dirimu ketakutan begitu?” tanyaku dengan sedikit emosi.

“Wulan tidak melakukannya, deng, tidak. . .” jawabnya sambil nangis meraung-raung. Mira memeluknya, membiarkan wulan menyandarkan kepala di tubuhnya.

“ceritakan pelan-pelan, Lan”
“tadi sore seharusnya sudah pulang, tapi ntah mengapa dia masih nongkrong di rumah makan sampai malam” cerita wulan dengan sedikit tenang.
“aku selalu meminta dia untuk mengantarkan ku pulang, tapi dia sama sekali tidak memberikan tanggapan. Sampai akhirnya sekitar selesai orang shalat isya, aku diajaknya pergi. Aku berpikir dia akan segera berangkat ke Jambi. Ternyata. . .” dia mulai lagi nangis terisak-isak. . .
“ternyata apa, dek?” Tanya Mira sambil berusaha menenangkan dirinya.
“aku dibawa jauh ke dalam kebun kelapa sawit. Aku tidak tahu seberapa jauh dari jalanan. Yang aku ingat aku tidak bisa lagi mendengar deru kendaraan yang lewat. Aku mencoba untuk berteriak. Tapi sia-sia saja. Tidak ada yang mendengarkan. Aku di dorong sehingga terbaring di antara pohon kelapa sawit. Tidak hanya itu, dia juga membuka pakaianku yang bawah. Memaksa aku untuk melayani dia, tapi aku selalu menangis menolak, meronta sekuat tenaga. Sampai-sampai dia mencengkram dengan sangat kuat daguku ini.”
Wulan berhenti sejenak bercerita, dia memperlihatkan bagian wajahnya yang balu . Emosiku bertambah mendengarkan ceritanya.

“trus dia melakukan itu?” Tanya Mira yang sepertinya juga sudah sangat peduli.
“iya Lan, apakah dia melakukannya?” sambungku dengan nada gemetar.
“aku tidak tahu, deng. Aku tidak tahu. Waktu itu aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil berkata tidak mau. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku takut sekali, deng. Aku takut aku hamil.” Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku tatap Mira, berharap dia bisa memberikan solusi.

“Jujur saja, Lan. Dia melakukan itu atau tidak?” aku mencoba mendesaknya.
“Wulan tidak tahu, deng, tapi wulan bilang kepadanya kalau wulan sedang datang bulan”
“yakin? Tidak bohong?” desak Mira pula.
“iya Kak Mira, aku tidak bohong”
Mira sepertinya ikutan mulai terbawa emosi dengan cerita wulan.
“beneran? Berani diperiksa?”
“periksalah Kak, daeng juga boleh ikutan periksa, biar kalian lihat semuanya. Tidak apa-apa, ini demi kebaikanku juga. Biar kalian tahu kalau wulan tidak berbohong”.

Warna raut muka wulan yang sangat serius ketika menyuruh kami memeriksanya membuat kami percaya kalau dia berkata jujur. Aku menyandarkan punggung di pintu rumah. Aku mencoba menenangkan wulan. Meminta ijin dengan Mira agar dia bisa beristirahat di rumahnya. Dalam keadaan masih ada emosi, tiba-tiba aku melihat Dr. Minor tersenyum sambil berdiri di salah satu tiang teras rumah Mira. Tiba-tiba dia berujar sambil seperti menertawaiku.

“Anak muda, sekarang kau faham mengapa aku melakukan hal yang mengerikan itu kan?” ujarnya. Aku baru mau mengatakan iya, namun yang ku lihat justru bang Udin, tukang ronda di kompleks tempatku tinggal.
“woy boy, masih di rumah perempuan sampai subuh? Mau aku teriakkan biar orang-orang pada datang?”
“maaf bang, neh adekku baru datang dari Sungai Bahar. Benar kok”
“okelah, tapi pulanglah sekarang” bang udin berlalu.

Sekarang aku sedikit lega karena Wulan sudah aman. Aku dorong Supra putih milik si Basril. Malas rasanya mau menghidupkannya. Lagian aku dan Mira tetanggaan juga, hanya jarak 30 meter saja. Sampai di rumah, aku rebahkan badan. Pikiranku jauh menerawang semua yang barusaja aku lewati. Tiba-tiba aku tersadar untuk langkah selanjutnya esok pagi. Wulan harus di antar ke rumahnya. Pastilah orang tuanya akan mengira akulah yang membawanya pergi sampai satu hari satu malam.

~*~ ~*~ ~*~

“kurang ajar kau, bangsat! Kau apakan ponakanku!” teriak paman wulan di depanku. Lengannya melayang ke arah muka ku. Tapi dengan cepat wulan mencegah.

“Maaf bang! kalau bukan karena aku, wulan belum tentu bisa pulang hari ini” kata ku dengan penuh emosi juga.

Dia menarik lengan wulan dengan keras, mengajaknya pulang. Aku hanya menghela nafas memandang orang yang ada di sekelilingku. Semoga wulan tidak di pukulin oleh bapaknya. Ya Allah, jagalah dia dari segala bentuk marabahaya, aku berujar dalam hati.

~*~ ~*~ ~*~

“Daeng, ini bapak mau ketemu.” Aku terkejut bukan kepalang. Wulan datang ke rumahku dengan bapaknya. Aku sudah mengira bapaknya akan marah-marah. Tapi setelah mendekat, justru senyumnya terukir dengan manis sambil menggenggam tanganku.

“Terima kasih banyak ya, Nak. Wulan banyak bercerita dengan bapak tentang dirimu. Termasuk yang tadi malam. Bapak tidak tahu akan jadi apa wulan jika anak tidak datang subuh tadi menjemputnya.” Aku bernafas dengan lega, Alhamdulillah ucapku dalah hati.

“Main-mainlah ke rumah kami, nak. Masa iya sudah selesai penelitian sudah lupa dengan kami. . .” dia tersenyum. Aku tersenyum. Wulan tersenyum.Mereka berlalu meninggalkan ku yang masih berdiri di halaman masjid. Aku tatap langit pagi yang cerah, namun samar-samar aku masih melihat bulan sabit di langit, di antara awan-awan.


Catatan:
  • Idi' ga? adalah Bahasa Bugis yang berarti: apakah itu anda?
  • Iyyek, deng Bahasa Bugis yang berarti: iya bang.
  •  Crowthorne : adalah sebuah desa yang terletak di sebelah selatan distrik Berkshire.
  • Berkshire : Daerah bersejarah yang ada di bagian tenggara Inggris.
  • Deng, sebenarnya singakatan dari kata daeng yang berarti abang dalam bahasa Bugis.
  • Sebelas dubelas : Ujaran anak-anak di Sumatra yang berarti hampir sama saja atau mirip.
  • Barobbo' : Masakan khas Bugis yang menyerupai sup sayur jagung. Biasanya terbuat dari jagung, daun katuk, dan dicampur dengan udang atau ceker ayam.
  • Barongko : Kue tradisional masyarakat Bugis. Terbuat dari adonan pisang dengan campuran tepung dan gula dalam tekakaran tertentu, dikukus dalam daun pisang.
  • Onde-onde : Kue Bugis yang menyerupai klepon,  bedanya onde-onde dibuat dalam ukuran yang kecil.
  • Bandang : Kue Bugis juga, terbuat dari pisang yang dimasak terlebih dahulu, kemudian dibungkus dengan adonan tepung yang telah dimasak dengan santan, kemudian dikukus dalam balutan daun pisang.
  • Puswil : Pustaka Wilayah Provinsi Jambi.
  • Fuang : Ungkapan yang digunakan untuk memanggil orang yang jauh lebih tua dari kita dalam bahasa bugis. Biasanya nenek atau kakek, atau bisa juga orang yang di hormati dan memiliki kedudukan tertentu dalam strata sosial.
  • Korina : sebutan masyarakat pulau Batam kepada PSK.
  • Baju koko : Baju muslim
  • Kayak manolah : Ungkapan masyarakat jambi, yang kurang lebih berarti: lalu bagai mana sekarang, apa yang harus aku lakukan?
  • ketengan : Ujaran masyarakat Jambi yang berarti mengisi minyak di pada penjual yang ada di pinggir jalan selain di SPBU.
  • Balu : merupakan ujaran masyarakat jambi yang berarti luka lebam sampai membiru. 

7 comments:

Sang Cerpenis bercerita at: 19 Juli 2011 15.27 mengatakan...

bulannya eksotis banget ya...

Nihayatuzzin at: 19 Juli 2011 20.12 mengatakan...

hehe iya mba' bulannya buat gregetan, hahaha

MUHAMMAD RIDWAN at: 4 April 2012 08.29 mengatakan...

aku rasa kalau ini sebagai cerpen, alur2 tambahannya terlalu banyak dan terlalu meluas. setahuku cerpen itu punya jalur yang singkat dan simpel walau bisa jadi punya ending yang twist
tapi aku rasa susunan kalimat dan paragrafnya bagus,
mari terus berkarya...

Nunu at: 4 April 2012 08.46 mengatakan...

Cerpen yang panjang, but i like it

habibi daeng at: 4 April 2012 11.37 mengatakan...

mas Ridwan, hehehe memang banyak tambahan dan meluas, mas, niat saya mau improvisasi, dan karena itulah mau tau respon dari kawan-kawan sekalian, :). Danke ya mas :D

Nunu,, makasih ya dah mau baca + coment

M.HAFIZ PUTRA at: 5 Desember 2013 23.42 mengatakan...

Wah capek juga mbacanya , tapi ceritanya asyik. Sepertinya setting tempatnya tidak asing bagi ku ya :)

habibi daeng at: 20 Desember 2013 10.40 mengatakan...

emang harus asyiklah Fiz, biar ngalis ceritanya. ya dirimu pasti taulah setting ceritanya dimana, kan sering ke sana juga :D