Sabtu, 25 Juni 2011

Penyair yang bukan penyair


 “Meutia Mansur mentioned you
In a comment in Blog of Friendship (Bloof)”

24/06/2011
07:31 PM

Selepas shalat magrib si kodok merah bergetar hebat, ada pesan masuk dari 32665. Dalam hati aku membatin, kenapa namaku dibawa-bawa oleh mba yang digelarin Hansip oleh yang lainnya (PISS Mba’ ^_^). Karena malam ini malam sabtu, para santri tidak ngaji, tapi hanya setor hafalan surah saja, maka aku titipin santri sama ustadz yang satu lagi. Dengan penuh penasaran aku buka halaman Bloofers, dan juga page-nya Mba Tia tentunya. Ternyata diriku dapat giliran memegang tongkat estafet, PeEr. Tapi, mba Tia benar, tak kenal maka tak sayang, meskipun kata Mas Jhoe ini seperti kutukan yang dilempar-lempar (hahaha aku tahu dia bercanda). Hal ini adalah suatu kesempatan untuk memperkenalkan diri lebih jauh: kesempatan buat narsis 100 %, Azzeeiiikkkhhh. . .

Mulai dari mana ya? Wokeehh  (hawa naga menyembur). Kalau mba Tia pakai angket, aku pu n iya. Bedanya, angket ku (sebenarnya sebuah buku catatan) terisi 7 tahun yang lalu, sewaktu masih SMA. Aku minta teman-temanku menuliskan pendapatnya tentang diriku. Tentu saja selama 7 tahun ada yang berubah. Let’s get it started.

  • Supel & Simpel

Setelah membolak-balik buku catatan (mirip diary seh) 7 tahun silam, semua temenku bilang kalau diriku paling enak diajak ngomong, dan paling cepat kenal dengan seseorang. Let’s elaborate it one by one. Kalau dibilang paling enak diajakin ngomong, yaaa, merekalah yang tau. Memang sieh, sejak daku (hahahaaaa, mulai lebay) kelas 2 Tsanawiyah sampai saat ini, sudah tak terhitung jumlahnya orang yang nangis di hadapanku (bukan aku yang nangisin lho) mereka curhat sampai nangis gitu. Tidak hanya teman sebaya, atau sekelas, bahkan ada yang kakak kelas. Padahal waktu itu aku masih keals 1 SMA dan mereka-mereka sudah pada kelas 3. Tidak hanya yang cewek, yang cowok pun juga. Lebih sedeng lagi, orang yang sudah jauh lebih tua daripada diriku, whuaaaa sempat kebingungan juga. Aku masih 19 tahun waktu itu dimintain pendapat oleh orang yang umurnya sudah hamper 30. The second thing, sepertinya kurang tepat mereka bilang aku paling cepat kenal dengan orang (secara langsung), yang benar adalah aku akan perhatikan dahulu tuh orang (seperti lauk, hahaha) barulah mencoba untuk mengenalnya sedikit-demi sedikit.

Aku juga orangnya ga banyak neko-neko, apa adanya, kecuali kalau ngomong, suka lupa berhenti. Remnya udah blong kali ya? Sampai-sampai teman-teman sekampusku yang cewek bilang begini:

"Aby, dirimu itu paling ga cocok rasanya dijadikan pacar, tapi paling cocok jadi suami"

aku dan teman cowok yang mendengarkan kalimat itu seperti digelitik setan, ketawa terbahak-bahak, hehehe. . .

  • Lapangan Golf di Rumah Kemuliaan

Lapangan Golf adalah sebutan teman-teman untuk jidatku yang lebar. Sempat bingung juga, kok begini ya? Tapi memang jidat Bapak emang lebar sieh (maafkan anakmu ini ya, Pak ^_^). Cuma penasaran masih ada. Hingga suatu saat aku berkesempatan datang ke daerah Mendahara dalam acara walimatul urusy sepupu. Sesampai di sana, ASTAGA. . ., ternyata dari sini rupanya lapangan golfnya, aku berucap dalam hati. Justru di sinilah lebih parah, “lapangan”nya hampir sampai ke bagian belakang. Aku tersenyum-senyum sendiri sambil mengatakan hal ini dengan Ibu yang kebetulan juga ikut ke acara tersebut.

Rumah kemuliaan adalah sebutanku untuk Masjid atau Langgar. Istilah ini tiba-tiba muncul ketika aku menulis sebuah puisi beberapa tahun silam. Sejak SMA kelas 1 sampai sekarang, aku bertempat tinggal  di Masjid dan Langgar. Semasa SMA di Masjid Besar Kecamatan, dan sekarang di kasih amanah sebuah langgar di belakang kampusku.

  • Ensiklopedia Berjalan, Ustadz Gaul, & Bujang HP
Nah, ini juga gelaran yang diberikan oleh teman-teman di kampus dan di rumah. Ensiklopedia berjalan diberikan oleh adik-adik tingkatku di kampus. Karena mungkin setiap mereka bertanya, aku selalu memberikan jawaban, meskipun sangat sederhana dari yang pernah ada (nah mulai dah berpuisi). Tapi sejujurnya, untuk yang satu ini aku kurang begitu senang, karena bisa membuai dan membuat jadi sombong (Astagfirullah. . .). Ustadz gaul, adalah julukan Sappiseng-ku dan teman-teman yang lain di sekitar rumah. Mereka bilang, aku tinggal di Masjid tapi gayanya suka ngejreng juga, pake Lepis dan kaos oblong, hahaha . . .

Nah kalau Bujang HP adalah gelaran dari teman ku yang drummer sebuah band lokal. Waktu itu  diriku paling sering telponan, setiap saat megang HP, bahkan sambil makan (ampe kena tegur tuh). Gimana ya? Perasaan yang aku butuhkan waktu itu hampir semuanya ada dalam HP-ku waktu itu (sudah ku jual si kodok hitam, gara-gara lagi apes banget mau Munaqosyah tapi ga punya uang sepeserpun): mau transaksi? Net banking ada, ga perlu repot-repot ke bank atau ATM. Lagi butuh Al Qur’an? Alhamdulillah ada. Bacaan dalam bentuk Ebook? Alhamdulillah ada. Kamus? Ada. Musik? Ada. Jadi hampir komplit (wah sombong niyee, hehehe) makanya si hitam (waktu itu) jarang sekali berpisah denganku.

  • Suara Dengan Nada Tinggi
Aku paling ga bisa dengerin orang yang ngomong dengan diriku dengan nada suara yang tinggi (kecuali dalam keadaan tertentu), apalagi nyuruh dengan nada suara tinggi. Yang diperintahkan akan tetap dijalankan, tapi jadi dak ikhlas gitu.

  • Daniel Powter & Sastra
Entah mengapa lagu-lagunya si Daniel sangat betah di telinga ku sekarang. Tak jarang kalau mau tidur mutar lagunya dia dulu. Memang liriknya bagus-bagus sieh. Sebenarnya tidak hanya lagu si Daniel, berderet nama penyanyi barat yang lainnya seperti Dido, Jason Mraz, Maher Zein, MTLR, Miley Cyrus, Muse, Paramore, Shania Ward, Simple Plan, Avenged sevenfold, Westlife, dll.

Nah, kalau ada yang nanya “apa alasanmu untuk selalu menulis?” aku akan katakan Sastra adalah jawabannya. Aku mulai giat menulis diwaktu kelas 2 madrasah tsanawiyah. Dan yang ku tulis memang puisi dan cerpen serta essay sastra.  Sampai-sampai aku memberikan julukan untuk diriku pada saat itu Penyair Yang Bukan Penyair (Jambi, Rumah Kemuliaan, 3 November 2008):
Aku adalah jiwa dari tinta yang tumpah ruah di atas kertas,
jiwa yang terselip di kering daun
yang meneteskan darah sendiri
pada tiap tikungan lorong-lorong sempit.


Aku adalah angin basah
yang bertiup dari pagi hingga petang menjelang,
yang datang dari pulau tak bernama,
di sebuah tempat bernama hati.


Aku adalah seonggok kata,
yang bisa terbang kedalam mimpi mu,
atau merayap ke dalam hati mu,
atau mengajakmu bergurau senda
atau menemanimu menurunkan hujan di pipi manis mu.


sebatas ini telah tercatat,
tidak jarang anak-anak ku terlahir
karena luka bermandikan garam.


oh, aku lupa
aku hanya lah penyair yang bukan penyair  


Sayang waktu kelas 3 Tsanawiyah terjadi kebakaran hebat, habis dah tuh semua. Namun, setelah selesai merampungkan skripsi 1 tahun yang lalu, menulis menjadi salah satu hobiku. Apalagi setelah bergabung dengan Bloofers, mendapat spirit dari sahabat bloofers, tambah semangat aja dah

  • Tempe Goreng & Film Barat

Aku dilahirkan sebagai orang bugis, tapi paling suka makan tempe goreng, addicted gitu. Setelah ku telusuri, ternyata hal ini disebabkan karena sepanjang hayatku selalu ada orang jawa yang dekat denganku (nah ketahuan).

Kalau soal film barat, wah diriku pasti suka. Bukan karena jurusanku adalah Bahasa Inggris, tapi karena memang suka aja, kalau perlu sampai subuh begadang, bahkan pernah sampai pagi tidak tidur sama sekali.

  • Asap Rokok & Bony Fish
Asap rokok dan ikan yang banyak tulangnya adalah hal yang aku tidak suka. Padahal aku satu rumah dengan orang yang semuanya merokok selama ini. Sebenarnya, aku pernah merokok sewaktu menjelang masuk SMA, berhubung rokoknya tidak diproduksi lagi, kegiatan itu berhenti dengan sendirinya. Sedangkan ikan yang banyak tulangnya punya cerita sendiri. Sebenarnya aku adalah orang yang ga milih-milih kalau makan. Semuanya bisa (asal halal), mungkin karena aku besar di sawah. Hanya saja, pernah dahulu aku keselek tulang ikan parang, dua hari baru bisa terbuka tuh, sakit sangat mengganggu rasanya.

  • Kucing & Kunang-kunang
Waktu kecil aku sangat suka dengan binatang yang namanya kucing dan kunang-kunang. Mungkin karena mereka yang paling sering ku jumpai di sekitar rumah (ayam, bebek, angsa, anjing juga sering ketemu, tapi ogah ah). Dan aku pernah punya kucing yang ku beri nama “Si Manis” warnanya mirip Garfield, tapi lebih gemuk Garfield. Dia seperti mengerti apa yang aku ucapkan, ga pernah buang kotoran sembarangan, dan setia menunggu kami selesai makan baru meong-meong minta makan.

Melihat gerobolan kunang-kunang menari-nari di tepi sungai atau di atas rimbunan lalang di malam hari, selalu membuat aku bisa tersenyum. Dan biasanya, adalagi yang bisa ditulis, hehehee. . .

  • Merah Yang Biru. Merah itu juga lambang panas (marah) dan biru adalah dingin (maaf). Maksudnya, aku mudah sekali marah,  tapi cepat sekali memaafkan. Pernah suatu saat para santriku bertanya, “kok ustadz ga pernah kami liat marah? Ga bisa marah ya?” aku menjawab “sebenarnya bukannya tidak pernah marah dengan kalian, malah sering. Hanya saja, kalau diriku marah terdengar seperti orang lagi ceramah, ga pake suara keras, suara tinggi.” “Kenapa begitu?” lanjut mereka. “Karena kalau ustadz beneran marah seperti yang lainnya, denga suara tinggi dank eras, itu bisa bahaya. . . “ akhirnya mereka mengerti.

  • Anemia & Insomnia

Kedua penyakit ini sepertinya beriringan. Aku yang notabene sering begadang, tak lepas dengan anemia, kurang darah. Pernah suatu saat, aku berlibur di rumah orang tua angkat selama beberapa hari. Bosan rasanya duduk dan jalan saja. Akhirnya aku putuskan untuk membantu adik-adik di belakang, menguras kolam ikan. Barulah ember yang ke 8, tanpa sadar aku sudah terbaring di pinggir kolam yang panjang dan berlumpur. Kata ibu angkatku aku pingsan seperampat jam, hahaha. Memalukan !!!, sampai dikatakan cemen oleh adik disana. Nah lho makanya. . . hehehe.

Waahhh, tidak terasa panjang sangat yaa. Tapi ga apa-apa dah. Syukron ilaLLAH, PR ini telah selesai. Semoga Mba Tia dan yang lainnya memberikan nilai seratus (macam anak SD aja, hehehe). Selanjutnya, tongkat estafet ini aku ikutan lempar juga dah, untuk orang-orang berikut ya:





Akhina Awaluddin Jamal


Catatan: Sappiseng (sepupu sekali) dalam bahasa Bugis berarti anaknya paman atau bibi 





13 comments:

Rubiyanto Sutrisno at: 25 Juni 2011 01.54 mengatakan...

Lengkap, siiipp, aku ngga ngerokok deh kalau lagi deketan dirimu, he he he

Phipi at: 25 Juni 2011 08.29 mengatakan...

Double, sdh dpt dr k'achi juga..hha. Siap, Insya Allah, Segera kuselesaikan amanah ini klo amanah yg lain sdh kelar.. :D

Nihayatuzzin at: 25 Juni 2011 11.56 mengatakan...

@Mas Ruby,, wadoh,, take it ize mas, lha wong aku aja 5 tahun sudah serumah dengan yang merokok. hehehe tempat kerja mas kan luas juga, jadi ga papalah ^_^.

@Mba Phipi,, ya mba, di tunggu hehehe. syukron katsir. . .

meutia rahmah at: 27 Juni 2011 14.48 mengatakan...

aby..maafkan diriku baru bisa membaca postingan mu..uah bbbrp hari ngak ol sih..tak knal maka taks ayang..sdkt banyak saya sudah mengenal mu...hehe yg terkahir penyakit kita sama..anemia dan insomnia ...thanks udah di kerjain PR nya saya ponten 99 deh..dan 24 jempol buat ente.

Nihayatuzzin at: 27 Juni 2011 17.09 mengatakan...

@Mba Tia,, ga papa kok mba, aku maafkan dirimu, bahkan sebelum minta maaf (hahaha, sok niyeee. . .) wuih. . . dapat nilai yang mantep,, 99 + 24 jempol dari mba Tia. tapi mgomomg2, mba tia pake jempol sapa aja ya? heheee

meutia rahmah at: 29 Juni 2011 23.03 mengatakan...

aku pinjam jempol tetangga hehhee

Nihayatuzzin at: 1 Juli 2011 20.41 mengatakan...

@mba Tia, Jiahhhhh, pantesan ajja. . . hahaha

Gaphe at: 2 Juli 2011 10.25 mengatakan...

jadi kenal lebih dekat sama pak ustadz nih.. saya nggak suka bony fish juga.
soal marah, kayaknya saya nggak bisa marah deh.hhehehe

Nihayatuzzin at: 2 Juli 2011 15.45 mengatakan...

@mas Gaphe,, hehehe bony fish, kapok keseleg tulang ikan lagi mas, wkwkwkwkk. . . wuih ntar yang jadi istrinya mas gaphe seneng banget tuh ga bisa marah, hehehe

Sang Cerpenis bercerita at: 2 Juli 2011 15.53 mengatakan...

asap rokok itu memang mengganggu banget lho..

Nihayatuzzin at: 3 Juli 2011 20.08 mengatakan...

@sang cerpenis,, hehehe banget, buat yang ga merokok mba, wkwkwkk

Accilong at: 7 Juli 2011 20.40 mengatakan...

Dido, Jason Mraz, Maher Zein, MTLR, Simple Plan, Westlife, koq teman2q disebut2 disini??? wakakkakakk

hm, skalipun sya juga termasuk sahabat baik insomnia, tp sya mesti bersyukur SI insomNIA-ku jarang2 mengajak SI aneMIA, apalagi SI amneSIA main2 ke tempatku. rada bingung juga, padahal si NIA, MIA, dan SIA kan sahabat baik.
wakkakakkakkkk... errorrrrr... :D

Nihayatuzzin at: 7 Juli 2011 21.15 mengatakan...

@mba Asriani Amir,, Bbbeeeuhhh,, kerasa-rasa ya jadi sabahatnya mereka para seleb dunia wkwkwkwk. . .

hahaha. . . ketawa aku baca komen mba neh,,, mantap kreasinya dijempolin dah. . . makasih ya mba ^_^ hehehe