Kamis, 16 Juni 2011

Laut tawar di pantai berhala







Sepasir embun yang mengikuti kita
membuat tawar air laut.
gerakan tangan dan tubuh yang telah asin
pun telah manis dalam hempasan busa ombak;
mendengarkan angin bersiul ria dalam gerakan yang sama,
memetik matahari sore jingga

- Ternyata kantong kita masih muat
segenggam pasir putih bersih -

hanya,
tawar air laut di sini akan berbeda
dengan tawar sungai Sungai Batanghari di Angso Duo.


Pulau Berhala, 21 Juni 2009
                       03.40 PM




6 comments:

Sam at: 17 Juni 2011 07.07 mengatakan...

Semoga tawarnya tak setawar roti tawar ketika ditawar oleh penawar... :D

Nihayatuzzin at: 17 Juni 2011 11.09 mengatakan...

hahaha. . .,, mantap tuh mas, kalimat persajakannya. . .

sebenarnya kata "laut tawar" dalam puisi di atas aq jadikan perlambang untuk "kejadian yang tidak biasa, yang hanya terjadi di suatu tempat. (bukan hal yang mistis, tapi perubahan perilaku seseorang yang sangat drastis, ga seperti biasanya)"

first gamut at: 17 Juni 2011 14.29 mengatakan...

selalu nggak bisa ngerti kata2 puitis,
hahahhahah
*silahkan tertawa

Nihayatuzzin at: 17 Juni 2011 16.17 mengatakan...

@mba Dora,, hehe ga papa mba' lama-lam kalau sering baca karya sastra bakalan bisa kok ^_^

SHUDAI AJLANI (dot) COM at: 21 Juni 2011 00.04 mengatakan...

pengen ngerasain tawarnya itu kayak gimana sih hehe

Nihayatuzzin at: 21 Juni 2011 13.58 mengatakan...

@Akhina Shudai,, wah terlambat mah. kalau dulu ikutan ke berhala mungkin bisa. anyway, blognya bagus banget akh,, ajarin dunk. . . hehehe