Kamis, 05 Mei 2011

Suka Duka Anak Rantauan



Menjadi anak rantauan, ya itulah diriku. meskipun sebenarnya ga begitu jauh dari kampung. yang jelas hidup tidak dengan orang tua, belajar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan tangan sendiri,,, biar siap untuk langkah selanjutnya (cuit cuuiiittt,, langkah yang mana tuh? Hehe

berbagai kondisi yang membuat hati merasa girang, bersedih, harus siap di hadapi. bagi anak rantauan masalah utama yang selalu dan senantiasa harus difikirkan adalah bagaimana mengamankan Kampung Tengah, tentu untuk mereka yang selalu berkecukupan tidak akan pusing dengan hal ini. namun bagi kami yang datang merantau dengan tidak membawa apa-apa, hal ini adalah nomor wahid yang harus diperhatikan baik baik

Nah, kalau tiba saatnya sudah pada tipis tuh dompet, atau bahkan sudah kering, mulailah yang ritual makan bersama dalam satu piring atau apalah. kadang kala kami berenam makan satu tempat saja (Alhamdulillah masih bisa makan. . .). kalau kondisi seperti ini, tak jarang daun pisang tetangga jadi sasaran untuk dijadikan alas tempat makan pengganti piring, hahaha. . . tentu dah izin dunk. . 


kalau sudah benar-benar habis, apalagi belum ada pemasukan, ya puasa, hehehe. mau sih minjam san minjam sini, tapi utangnya dah numpuk, yang ada malu rasanya nambah hutang terus. namun sahabat, keadaan yang seperti ini bila kita jalani dengan sabar sungguh lah indah, ternyata setelah semua itu ada hal yang manis yang menunggu. . 



Note: Kampung tengah: Istilah buatan sendiri yang berarti Perut

2 comments:

Retno Novitha S at: 5 Mei 2011 22.44 mengatakan...

anak kosan emang punya beribu cerita ya..
salam

Nihayatuzzin at: 6 Mei 2011 22.40 mengatakan...

yah begitulah ukhty, sayang rasanya kalau cuma bisa dikenang,,, hehe