Senin, 04 November 2013

Senyum Putri Malu Sedingin Embun




Bukan pertama kalinya ku ceritakan
Sejarah sepi yang datang dari pulau apa
Yang menetes dari ujung akar-akar angin,
Dari telaga sajak yang sedang dibaca.

Hei, kau yang begitu angkuh,
Aku adalah kerak nasi dan hitam arang,
Bersamaan dengan kilat pelangi dan musim hujan,
Atau kau akan menyembuhkan satu deras
                                                Hujan?
Menuang senpi di celah-celah senyum
Yang belum sempat ku tanyakan,
Senyum yang dingin
Sedingin embun.


Rumah Kemuliaan, Jambi, 30 Desember 2008

1 comments:

M.HAFIZ PUTRA at: 5 Desember 2013 23.47 mengatakan...

Ada yang malu-malu nih yaaa