Kamis, 14 November 2019

Tapi bagaimana dengan rindu ini


Wahai kekasih ku,
(bahkan aku merasa mengatakan ini dengan diri yang masih jauh dari tuntunanmu)
Tak bisa aku tahan air mata yang megalir deras
Tak cukup berapa tisu untuk mengeringkan basah pipi karena kerinduan ini
Namun, diri ini masih sangat jauh dari layak bertemu denganmu,
Tapi bagaimana rindu ini sudah tumpah ruah? Dalam mimpi pun rasanya aku malu
Tapi bagaimana dengan rindu ini?
Setiap nama mu disebut, setiap shalawat yang terucap, tak sanggup kelopak ini membendung derasnya asin rindu.

Assalaamu’alaika yaa Rasulullah, Assalamu’alaika yaa Habiballah.

Wahai kekasihku, bagaimana dengan rindu ini?
Bahkan aku tidak mempunyai jawaban jika ditanya apa yang telah aku lakukan untuk tuntunanmu.
Aku sudah malu sebelum ditanya.
Tapi bagaimana dengan rindu ini, kekasihku, aku berkata hanya  dengan lirih karena merasa belum pantas.
Tapi bagaimana dengan rindu ini?
Semoga Engkau mengizinkanku, meski dibarisan paling belakang, untuk duduk melingkar mendengarkan cahaya cintamu, di Firdaus kelak, meski belum ku tahu rinduku ini apakah layak.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa aalihii, wa ashaabihii, wa zurriyyaatihii ajma’iin.

Jambi, 17 Rabi’ul Awal 1441 H / 14 Nopember 2019

0 comments: