Minggu, 15 April 2012

Kilometer Nol



picture from adexinu.blogspot.com

Malam ini aku tidak jadi menginap di MEC, padahal rencana awalnya iya, akan ngumpul bareng bersama dengan teman-teman yang lainnya. Entah apa yang memaksaku untuk pulang, pikiran hatiku saat itu sangat sulit disatukan. Teman yang lainnya sudah pada tidur, tapi tetap saja aku bersikeras untuk pulang. Ku bangunkan salah seorang dari mereka untuk mengantarkanku pulang. Udara saat malam menjelang subuh sangatlah dingin, sangat dingin seperti suasana hatiku. Aku mencoba menhilangkan firasat buruk yang aku rasakan. Aku merogoh handphone yang ada dalam saku celana.

"Neng, udah tidur ya?"
"Belum, napa?"
"Ga ada apa-apa kok, cuma . . . . ."
"Maafin aku, aku ga mau nyakitin kamu, Li . . . . ."
"Maksund Neng?"
"Jangan Jadi Ikal . . . . . "

Hatiku tersentak, inikah yang Allah maksudkan dengan kegelisahanku sehingga membatalkan janji dan lebih memilih untuk tidur sendiri di rumah? Inikah mengapa hati dan fikiranku tidak bisa berdamai?

"Aku jauh lebih dahulu menjadi seperti ini sebelum membaca tetralogi laskar pelangi. apa aku salah dengan semua ini? Ada banyak hal yang ga Neng tahu selama Aku menjadi 'Ikal', dan semuanya itu justru menambah kesana."

Ku masuki teras rumah, teras yang hanya selebar 2 meter itu tiba-tiba melebar, meluas, menjadi padang sabana yang gelap. Bunyi pintu berderik panjang seperti bunyi ringkikan kuda yang tertusuk panah di dada di medan pertempuran. Lantai marmer putih seketika berubah menjadi balok-balok es yang sangat dingin, dinginnya menusuk telapak kaki hingga ke tulang setiap melangkah. Kini kamarku, segala apa yang ada di dalamnya menyambutku dengan kepala tertunduk. Buku-buku itu, biasanya mereka menyapaku dengan ramah sebelum tidur, namun kali ini mereka semua menundukkan kepala. Hanya kasur tipis yang langsung membentangkan dirinya, memberikan isyarat padaku untuk segera berbaring. Ku pandangi sekeliling kamarku, dinding-dindingnya tahu segala hal yang ku alami selama aku tinggal di dalamnya.

"Ga ada yang salah dengan semua ini, tapi mungkin ada baiknya menjadi seperti Azzam yang senantiasa percaya dan menerima apa pun keputusan Tuhannya. Ramli, aku bahkan tidak sanggup menjelaskannya padamu. Aku bahagia dicintai orang sebaikmu. Hanya saja sebelum kita bertemu seseorang telah mengambil hatiku. Pahit rasanya ku ungkap semua ini. Aku ga ingin dikau sakit, Li. Harus dengan apa aku menebus setiap sikapku yang telah menyakitimu? harus dengan apa aku membalas semua kebaikanmu padaku? tak sanggup aku menjauhi orang yang sebaik kamu, Li. tapi mendekatimu pun juga salah, karena hanya akan semakin menyakitimu, memberikan harapan hampa padamu. Dan mungkin ini adalah kesalahan terbesarku padamu. Aku rela jika harus dibenci olehmu Li. Aku tak sanggup melihatmu bersedih, tapi mengapa Tuhan memberimu cobaan seperti ini? Apakah dikau tahu, Li, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu, bukan wanita sepertiku yang hanya bisa menyakiti seseorang. Dikau mengertikan, Li? Tuhan akan memberikanmu sorang Bidadari."

Suasana menjadi gelap seketika. Dinding dan langit kamar terlihat bergoyang seolah akan runtuh menimpa badanku. Aku tak tahu, tanpa ku sadari bantal menjadi basah dengan curahan air bening yang mengalir deras di pipiku. Tiada henti, tanpa suara sedu-sedan, tapi makin lama makin deras. Ku merasakan hatiku tersayat-sayat kemudian disiram dengan air garam. periiiiih sekali, baru sekali ini aku merasakan perih hati yang sangat-sangat. Air mata itu, mereka seolah berasal dari hatiku, seolah-olah mata airnya adalah hatiku yang telah remuk redam, pilu tak terkata.

"Aku sudah tahu semuanya saat kita masih di jakarta, waktu kita menghabiskan malam di tepian pantai Ancol. Aku mendengarkan percakapan kalian yang lewat telpon. Tiba-tiba saja hati ini senada dengan ombak yang sampai di karang pada malam itu . . . "

"Ya Allah, aku bahkan bisa tertawa saat itu, tanpa mengetahui apa yang sedang dikau rasakan. Aku hanya ingin menetralkan suasana, namun aku sendiri bingung harus melakukan apa. Harus bagaimana aku meminta maaf kepadamu Li?"

"Neng ga perlu minta maaf . . . . . Akulah yang harus minta maaf. Mungkin ini adalah hukuman untukku, tapi bukan aku yang mengendalikan hati ini . . . . . Sudah terlanjur . . . . ."

"Mengapa kamu katakan ini sebagai hukuman? ga ada yang salah dengan hatimu, dikau tidak pernah memintanya, bukan? ga ada yang perlu dimaafkan darimu . . . . . Istirahatlah akhi. Apakah dikau tidak bisa tidur karena masalah ini? Kalau begitu aku pun juga tidak akan tidur."

"Tidurlah kasihku, biar ku cari dahulu kunci mimpiku dalam badai ini. Aku telah menguji diriku beberapa bulan yang lalu, hasilnya adalah aku tak bisa berpaling darimu. Tidurlah kasih, biar kering dahulu sungai yang ada di pipiku ini, atau paling tidak menjadi surut . . . . ."

"Tutuplah matamu dari semua kebaikan dan kelebihan yang dikau lihat padaku, dan bukalah matamu esok hari, mentari akan menjelaskannya kepadamu bahwa melupakanku adalah jalan terbaik tanpa harus menunggu air menjadi surut."


Dinding kamar semakin menyempit, langit-langitnya semakin merendah. Ku rasakan diriku berada dalam peti kemas, gelap, sempit. Mataku semakin berat seperti mau jatuh saja karena terlalu banyak menangis, tapi tiada henti air mengalir.

"Aku sudah mencobanya beberapa kali, sampai mereka membenciku. Karena hal itu, aku telah melukai hati beberapa orang muslimah dalam tujuh bulan terakhir ini. Tapi bukan aku yang menghendaki, hati ini yang tidak bisa berpaling . . . . ."

"Sebaiknya aku harus bagaimana, Li . . . . .?"

"Aku tidak mungkin merusak hubungan kalian. Aku hanya ingin tahu, apakah aku ada di hatimu, maksudku, adakah dikau mencintaiku?"

"Ramli, aku sangat mengerti apa yang dikau rasakan. Terkadang aku tidak mengerti mengapa harus ada perasaan seperti itu. Sejak mengenalnya, aku sangat menutup hatiku. Dikau adalah orang yang kesekian yang harus mengerti posisiku. Aku tidak bisa berpaling darinya, apalagi menduakannya, meskipun dia sampai sekarang telah menghilang di dalam lingkaran hitam, tanpa kabar lagi. Meski aku tahu Tuhan lebih menyukai orang yang bisa menjaga hatinya. Dikau jangan sepertiku yang terlanjur jatuh, Li. Tuhan tengah mengujimu, berusahalah untuk sabar, dan Tuhan akan mengirimkan kepadamu seorang Bidadari."

"Boleh ku tahu siapa nama lelaki yang sangat beruntung itu? Ku harap untuk yang satu ini dikau meluluskannya. Salam hormatku untuknya. Setelah semua ini, aku akan mengunci hatiku. Ga akan ada yang bisa masuk karena hanya dikau yang memiliki kuncinya. Hanya dikau yang bisa masuk ke dalamnya, sampai Allah sendiri yang membukanya dengan cinta karena sebuah takdir."

"Buat apa, Li? Dia tidak pernah mau dipublikasikan. Dia bahkan tidak mau ada yang mengetahui hubungan kami. Dia tidak mau orang menjauh dariku karena ada dia. Dia tidak pernah melarangku untuk bersahabat dengan siapa pun. Dia amat tertutup . . . ."

"Aku terlanjur jatuh hati padamu. Maafkan aku untuk hal ini. Tapi dikau akan selalu di hatiku selamanya, meski hati ini berkali-kali terluka, aku tetap menyayangimu. Selamat beristirahat, kekasihku . . . . ."


Jam telah menunjukkan waktu pukul 3.30 waktu subuh, tapi pipiku masih basah. Aku masih belum merasa mengantuk sama sekali. itu adalah percakapan yang paling lama lewat telepon yang pernah kami lakukan saat dini hari. Perih hati juga masih sama, belum berkuran sama sekali. Wahai, mengapa baru sekarang hal ini begitu jelas? Mengapa mesti menunggu waktu selama hampir tiga tahun? Mengapa harus menungguku terluka dengan luka yang sama sebanyak enam kali? Mengapa jawaban yang sebenarnya baru sekarang? mengapa tidak dai dahulu? Saat tunas cintaku belum begitu besar, saat akarnya belum begitu kuat mencengkeram di hati, saat hal itu masih bisa dipalingkan. Dan sekarang, tidak bisa lagi. Ia sudah begitu kuat tertanam. Ia sudah memenuhi setiap sudut hatiku. Bahkan ia sudah mengalir bersama darah dalam hatiku. Mengapa baru sekarang?

Duhai, mengapa aku mencintai orang yang tak ku tahu apakah dia juga mencintaiku? Mengapa aku selalu merindukan orang yang tak ku tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama bila aku rindu padanya? Mengapa putih waktu selalu sama? Namun, luka ini adalah prasasti, prasasti yang dia ukir dengan pisau cintanya, prasasti yang bertuliskan gema-gema pelangi cinta, dengan tinta darah hatiku. Prasasti yang selamanya hidup dalam hatiku. Apakah aku menyesal karena mencintainya? Sungguh tidak, sekali lagi tidak ada penyesalan sama sekali.

Tidak ada alasan bagiku untuk menyesal karena telah jatuh hati padanya. Bila nabi Muhammad adalah pembawa cahaya dan tauladan, maka dia adalah inspirasiku. Setangkai bunga yang kerap kali menghiasi taman-taman mimpiku. Adalah suara yang sering terngiang dalam telingaku. Adalah angin yang bertiup lembut di hatiku, adalah madu yang mengisi danau dalam hatiku, adalah kemilau permata, mutiara, intan dan berlian yang telah mengisi relung hatiku, adalah senyum, tawa, dan canda yang selalu membuatku rindu. Apakah ada alasan untuk menyesal? Mungkinkah dia adalah cinta pertamaku?

Wahai, ini adalah lukaku yang paling luka. Luka di tempat yang sama, sebelum sembuh terluka kembali. Memang sebelumnya aku juga pernah terluka disebabkan oleh sorang santri, sorang hafidzah, seorang yang telah menghafal sebagian dari ayat-ayat Al-Qur'an, yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia telah melepas kehormatannya, bahwa dia telah melakukannya berkali-kali hingga ia lupa berapa kali sudah ia lakukan, bahwa terakhir kali ia melakukannya adalah beberapa menit sebelum ia mengatakannya kepadaku. ya, memang benar. Tapi hal itu berbeda dengan yang ku rasakan saat ini. Kalau itu adalah karena aku gagal menjalankan amanah untuk menjaga "Al-Qur'an Berjalan". Itu soal amanah. Tapi ini adalah aku sendri, hatiku sendiri, perih.

Duhai, sepi ini telah begitu kejam, menghalau sejuk di hati, membakarnya dengan bara yang menyala-nyala. Duhai semesta langit dan bumi, andai aku halal baginya, akan ku dekap ia erat-erat, agar sepi ini musnah, agar rindu ini tersampaikan, agar luka-luka di hati sembuh seketika. Namun, hal itu belum menemui jalannya. Maka, ku mohon izin darinya untuk memeluknya di dalam hatiku, tertawa bersama, bergurau senda. Ini masih didalam hatiku, mimpi nyata yang masih di hati. Segala kata, tawa dan canda masih tersusun rapi dalam hati, tiada seorang pun yang bisa menghapusnya kecuali Yang Maha Kuasa. Terkadang aku merasa dia juga mencintaiku seperti aku mencintainya, namun ketika aku diselimuti keingintahuan akan hal itu, justru dia pergi menjauh meninggalkan sungai-sungai kecil di pipi.

Sering ku bujuk hatiku untuk mengijinkannya keluar barang sejenak, agar dapat menemaniku duduk di ujung dermaga, menyaksikan cahaya rembulan yang dipantulkan riak-riak nakal gelombang di Berhala. Agar dia duduk disampingku, tersenyum sederhana dan bercerita bergantian tentang angin, tentang bintang, tentang bulan, tentang laut dimalam hari, atau tentang kami sendiri. Agar dapat ku labuhkan rasa setiap kali rindu ini menyergapku dari segala arah.

Sering sekali hal itu ku pinta pada hatiku agar dapat bersama-sama mengelilingi pulau dengan pasir pantainya yang berwarna putih mutiara yang halus menyapa telapak kaki, dengan bertelanjang kaki, melewati batu-batu besar beraneka bentuk dan ukuran yang terpajang di sepanjang pantai timur dan selatan pulau, melewati tebing-tebing tinggi dan curam, agar dapat mencapai Tanjung dengan batu besarnya yang berbentuk dua telapak tangan menengadah ke arah matahari terbenam. Atau agar dapat bermain petak umpet bersama diantara celah bebatuan besar, atau bermain layangan di puncak bukit Bendera. Sering ku panggil-panggil dirinya untuk keluar dari hatiku untuk menemaniku, sebagai tempat melabuhkan rindu, mengikis kesunyian dan sembilu.

Alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mulai terdengar dari toa-toa masjid di sekitar tempat tinggalku. Sungai ini belum juga kering. Pedih sekalil, sangat pedih. Namun aku tidak akan menyalahkannya. Aku mencintainya dengan sepenuh hati, bagaimana bisa aku menyalahkannya? Dia boleh saja milik orang lain di sana, namu di dalam hatiku dia adalah milikku sepenuhnya. Dia boleh saja tidak menyisakan cintanya untukku, namun dalam hatiku kami telah bersama. Namun bila aku rindu, harus kemana aku pergi? Harus kemana ku tumpahkan kerinduanku? Kemana lagi bila hati ini rindu kepadanya?

Tapi siapakah aku ini? Aku hanyalah anak pedalaman yang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah pemuda dengan dada yang penuh luka, luka yang sama di tempat yang sama. Sorang pemuda yang mencintai sorang gadis nan manis yang telah dimiliki orang lain. Mengapa? Duhai, hati ini diberikan cinta olehNya, aku percaya tiada yang sia-sia.

Aku masih memiliki tugas untuk menterjemahkan beberapa hal. Aku masih mencoba menyusun kalimat untuk tatapan-tatapannya sebelum ini. Allah yang meletakkan cinta di hatiku untuknya maka hanya Dia pula yang bisa mencabutnya. Jika memang sebatas inilah jalanku, mengapa Allah tidak mencabut cinta itu dari hatiku? Jika ini adalah jalanku, meski harus terluka berkali-kali dengan luka yang sama, jika ini memang jalan pertama yang harus ku lalui untuk merangkai bunga, maka dengan namaNya pula aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan menjemputnya, jika tidak di dunia, aku akan menunggunya di akhirat nanti.

Bunyi gesekan keras berderik panjang pertanda ada orang yang membuka gerbang Mushalla. Aku masih di dalam kamar, terbaring menatap langit-langit kamar dengan mata yang basah. Suara takbiratul ihram sudah terdengar, namun aku masih enggan bergerak.

Pukul 5.45 pagi hari, barulah aku bangkit untuk segera mengambil air wudhu. Ku hadapkan wajahku kepada Tuhanku dengan sepenuh hati. Ku hadapkan hatiku dengan mata berkaca-kaca, dengan berlinang air mata dan berdoa bersama segala jiwaku:


"Ya Allah yang Maha Mulia dan Pemurah, ampunilah dosa-dosa hambaMu yang bodoh dan lemah ini. Teguhkanlah hatiku untuk selalu berada di jalanMu. Berikanlah daku kekuatan untuk menghadapi cobaan yang Engkau berikan. Ya Robbi, jika cinta ini memang anugerah dariMu untukku, maka hidupkanlah ia bersama bunganya.

Ya Allah, ya Arhamarrohimiin . . . . . Ampunkan pula segala dosa sahabat dan saudariku ini. Dekaplah ia dengan kasih sayangMu karena kasihku belum bisa sampai kepadanya. Jagalah ia dari perbuatan maksiat dan segala mara bahaya.

Ya Allah, yaa Robbi, Engkau Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati setiap hambaMu. Perkenankanlah doaku ini . . . . . Aamiin."



Jambi, Rumah Kemuliaan
11 Maret 2009
Jam 04.00 subuh.

0 comments: