Jumat, 24 Juni 2011

Dara Mabbura' Mali'


picture by Andi Harianto
“Jangan buat aku kecewa, ifah. Jadilah orang kaya yang miskin dan orang miskin yang kaya. Engkau harus jadi orang Bugisnya masa depan. Orang Bugis yang merantau ke jambi yang tahu tata krama dan disiplin. Orang Bugisnya jambi yang bijak dan dermawan. Jadilah wanita yang sebenarnya yang menerima kodratnya dengan ikhlas dan menjaganya dengan ketakwaan”.

Daeng Masiga berhenti, mengumpulkan nafasnya yang tinggal beberapa genggam lagi. Berselang beberapa menit, mulutnya dengan susah payah ia buka untuk mengatakan sesuatu, seperti menyadari bahwa waktunya tinggal beberapa jengkal nafas lagi yang tersisa. Dengan susah payah bibirnya itu menyebutkan kata-kata kepada anaknya, Huzaifah.

“kalau pun nanti, engkau menjadi guru, jadilah guru yang baik dan bijak. Didiklah muridmu untuk selalu dekat dengan Al Qur’an.”

Kalimat itu ditutup bunyi syahadat yang sangat pelan dan begitu cepat terbawa bersama angin angin malam yang pergi menjauh karena sebentar lagi mentari akan menampakkan mukanya. Tiada lagi hembusan angin yang terasa di lubang hidungnya. Gerimis pun tercurah seketika  juga tanpa ada mendung yang menggelantung di langit-langit putih itu. Hanya deru baling-baling kipas angin yang menyela butiran-butiran bening gerimis itu, yang perlahan membasahi seprai kasur.

Ini adalah kedua kalinya Huzaifah harus kehilangan orang yang selalu menjadi tempatnya berbagi kasih dan saying. Sewaktu hari pengumuman kelulusan di SMA dua tahun yang lalu, ibundanya telah berpulang lebih dahulu. Gundukan-gundukan kesedihan semakin kokoh dan bertambah banyak. Semakin lama semakin tinggi menyerupai bukit kesepian. Tiada suara yang keluar dari mulutnya yang mungil. Ia mencoba untuk tegar, tapi toh, air matanya cukup deras tumpah, meresap di kasur pasien, di samping ayahandanya. Lantai ruang rawat inap yang putih, dan senyum terakhir Daeng Masiga yang putih, menyatu dalam keheningan. Putih menjadi hening. Tiada suara apa pun yang di dengar olehnya. Bahkan udara seperti tidak bergerak sama sekali, meskipun kipas angin tetap sibuk meracau bersama udara pagi. Debu-debu yang menempel pada diding ruangan juga hanya diam. Bahkan ia mulai tidak mendengar suaranya sendiri. Semuanya berhenti.

Sebenarnya, jika saja dokternya ada saat itu, bersiaga pada waktu itu, mungkin masih ada harapan ayahandanya untuk dapat bertahan. Daeng Masiga mulai bernafas putus-putus selepas azan subuh. Jikalau dokter ada pada saat itu, mungkin masih ada harapan untuk Daeng Masiga. Atau, seandainya petugas pengurus obat tidak membeda-bedakan pasien hanya karena status sosial dan jabatan, mungkin Ifah masih bisa melihat bapaknya hari itu. Huzaifah sebenarnya sangatlah heran melihat pelayanan di rumah sakit daerah. Bahkan, dia pernah medengar pembicaraan kepala perawat dengan salah satu anggota keluarga seseorang yang sedang sakit secara tidak sengaja sewaktu baru pertama kali ke rumah sakit itu. Ifah tidak bisa mempercayai apa yang tengah ia dengar saat itu. Kepala perawat berubah menjadi seorang calo obat dan kebutuhan rumah sakit lainnya. Ifah tertunduk malu mendengarkan percakapan itu. Dalam hatinya dia berdoa, bahwa dia ingin suatu saat nanti orang yang miskin seperatinya benar-benar mendapatkan peyalanan yang sama dengan lainnya.

~*~                    ~*~                    ~*~

Kini Huzaifa hidup sebatang kara, Mabbura' Mali',  harus mengganti posisi ayahnya sebagai tukang jual gorengan di Telanai. Dia harus bekerja keras demi menyokong hidupnya dan kuliahnya. Dia taidak ingin berhenti kuliah. Dia tidak ingin patah di usia muda. Meskipun, hanya dia sendiri yang melakukan semua itu. Baginya tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain ilmu dan ahklak yang baik. Dan itu dapa dia raih dari kampus kecilnya, sebuah kampus yang lebih mirip dengan museum. Di dalamnya dapat dijumpai beragam karakter dan sifat yang berbeda. Dia tiada akan mundur sedikit pun.

Berjualan gorengan dengan gerobak yang sederhana bagi kebanyakan orang adalah suatu hal yang sangat lucu apabila yang melakukannya adalah seorang gadis seperti dirinya. Mulai mengadon tepung dengan tambahan beberapa bumbu seperti yang pernah bapaknya lakukan, sampai harus mendorong gerobak sejauh lima kilometer, harus dia lakukan sendiri. Tidak jadi masalah baginya. Dia harus merasakan kerasnya hidup dan susahnya mencari uang.

Sebenarnya di kampusnya ada banyak beasiswa yang bisa dia dapatkan dan menyudahi pekerjaannya sebagai penjual gorengan di simpang empat gubernuran. Bisa saja. Namun, dia sudah terlanjur kecewa dengan sikap orang yang bekerja di akademik kampusnya. Beberapa semester yang silam, dia pernah mengajukan permohonan beasiswa prestasi ke bagian akademik, namun dia urungkan niatnya setelah mendengarkan perkataan pedas dari seorang pegawai di sana.

“ga usahlah masukkan permohonanmu itu. Semua hanya akan sia-sia. Pulanglah sana jualan gorengan aja. Semuanya disini sudah dijatah untuk bagiannya masing-masing. Kalaupun ada yang kami terima selain orang yang dijatah itu, mereka hanya formalitas saja. Cuma sebagai pelengkap saja. Agar terkesan ramai. Lagian, kamu kan tidak punya orang dalam, jadi lebih baik kamu buat gorengan yang banyak”, ucap pegawai tersebut. Dan hal itu tidak hanya sekali, bahkan terulang lagi ketika dia kembali memasukkan permohonan beasiswa.

Setiap pukul 5.30 sore, dia telah berada di depan gedung BI. Di trotoar. Di dekat simpang empat lampu merah. Di Telanai. Sebenarnya Telanai adalah nama dari salah satu kecamatan yang ada di jambi, yaitu Telanaipura. Namun, telanai yang ini mempunyai pengertian yang berbeda. Telanai tempat huzaifa berjualan adalah kawasan Gubernuran. Mulai dari simpang empat lampu merah terus ke timur hingga kawasan kantor gubernur. Suatu tempat yang bila siang hari adalah jalan bagi para pejabat dari dank e kantor. Sebaliknya bila di malam hari adalah arena kebut-kebutan bagi remaja-remaja yang terobsesi menjadi pembalap atau hanya sekedar ingin sok-sokan. Pada malam hari juga tempat itu menjadi tempat jualan. Mulai dari jualan makanan dan cemilan seperti yang dia lakukan, jualan jasa bagi para tukang ojek, sampai dengan jualan harga diri.

Dia yang mengenakan jilbab dan berpakaian longgar pada mulanya merasa risih dengan keaadaan tempatnya berjualan saat itu. Dia merasa tidak nyaman bila dengan tidak sengaja matanya menangkap adegan mengukur lingkar badan dengan lengan, atau yang lainnya si seberang jalan atau bahkan di samping tempatnya berjualan. Hatinya berontak ingin pergi dari situ. Tapi harus bagaimana lagi, di sanalah tempat dia mencari sesuap nasi. Toh yang dia lakukan adalah hal yang baik, mencari uang dengan keringatnya sendiri.

Sebenarnya dia sudah beberapa kali mencoba untuk berjualan di tempat yang lain. Dulu dia pernah berjualan di tepi jalan lintas Sungai Kambang. Pendapatannya di sana lumayan rajin membuat bibirnya melukis senyum pelangi. Meskipun dia harus membayar sewa tanah dengan ukuran 3 x 3 sebagai tempat jualan. Karena, tanah itu merupakan halaman rumah seorang warga. Omset penjualan lumayan tinggi karena letaknya yang sangat pas, di pemukian yang padat. Banyak kosan mahasiswa dan asrama Brimob. Namun saying, kegembiraannya karena mendapatkan untung yang banyak tidak dapat lama dia nikmati. Baru sekitar empat puluh hari dia berjualan dikawasan itu, sang tuan tanah mengusir huzaifa dan membuka warung. Dia tetap sabar.

Setelah pengusiran itu, dia pindah di halaman depan Asrama Haji di Kota Baru. Di tempat ini, alih-alih mendapatkan untung seperti sebelumnya, justru modalnya pun tidak kembali. Dia rugi. Kawasan itu adalah jalan lintas yang meskipun ramai, namun sangat berbeda dengan di Sungai Kambang. Kalaupun ada pembeli, mereka sudah memiliki langganan tetap. Banyak juga saingannya sebagai tukang jual gorengan.

Sekarang, meskipun dia berjualan di Telanai yang suasananya “anak muda banget”, dia harus berbesar hati demi kelangsungan kuliah dan hidupnya. Tidak jarang dia mendapatkan gangguan dari pemuda-pemuda yang iseng. Bait-bait doa selalu dia ucapkan untuk kesabaran dan kekuatan hatinya.


             ~*~                          ~*~                                ~*~


Seorang pemuda mendekati Huzaifa dengan mulut masih penuh dengan gorengan. dia berusaha mengambil perhatiannya. namun ifah sama sekali tidak menghiraukan hal itu. tangannya dengan cekatan menari-nari di atas adonan yang siap di goreng.

"enak juga ya gorengannya. bisa ajarin aku ndak?"

Huzaifah hanya tersenyum seadanya.

"Emm, kamu oke juga ya, cantik." pemuda tadi tambah merayu ifah sambil menelusuri setiap lekuk badan ifah dari atas sampai bawah dengan tatapan yang nakal.

"ehmm, temenku mau bicara, boleh ga? katanya dia kenal denganmu. itu dia di dalam mobil"

Jendela mobil Pajero Sport metalik perlahan terbuka. Segambar wajah menyeringai manis dari dalam mobil. Kumis tipis yang mengjiasi bibir atasnya. Ifah melemparkan pandangan yang parkir di tepi jalan. Sejenak dia berusaha menerjemahkan wajah yang disiram cahaya lampu jalanan. Rasanya tak asing, ifah membatin.

"Pak, Angga?"
"Iya, Fah. Ini bapak."
"Tumben Pak, malam minggu begini keliaran sama anak muda. Ga kasihan apa istri ditinggal di rumah?"

Ifah berjalan menuju mobil, dan menghampiri pak angga. Ifah memang seorang dara yang sangat menghormati orang tua. apalagi pak angga adalah dosen di kampus tempatnya menuntut ilmu. Dia selalu di ajarkan agar santun kepada yang lebih tua oleh ayahandanya.

"Nah, itu dia Fah." bunyi kletek terdengar dan pintu mobil pun terbuka. "Bapak mau minta tolong denganmu.
"Minta tolong apa ya, Pak?" wajah ifah yang disiram warna kuning cahaya lampu jalanan menambah ekspresi ingin tahunya akan kalimat tadi.
"Masuk dulu ke mobil Fah, kasihan kamu berdiri terus". tanpa menunggu lebih lama, seorang huzaifah, dara yang polos, langsung masuk ke dalam mobil dan kembali bertanya.

"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
"Begini, Fah. . . . . Kalimat pak angga terputus, namun jemarinya telah menggenggam tangan huzaifah. Dia tersentak, namun masih dibiarkannya. Dia berusaha berfikiran positif. Toh, dia juga merasa seperti sedang berbicara dengan ayahanda sendiri.

"Bapak sedang melakukan penelitian. Bapak butuh bantuanmu untuk mengolah data-data"

Ifah hanya diam memandangi cahaya lampu jalanan yang menerobos masuk melalui kaca depan mobil. Ifah memang dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas di kampus. Hampir di setiap semester huruf A berderet di kertas hasil studinya. Tak jarang teman-temannya meminta tolong apabila mendapatkan tugas kalkulus yang rumit.

"Penelitian ini harus segera selesai secepatnya. Maka dari itu bapak meminta bantuanmu. kebetulan istri dan anak saya sedang pulang kampung, jadi kamu bisa menghabiskan malam di rumah saya sambil membantu bapak, bagaimana, hummm?"

Ifah tambah kaget, karena tangan pak angga sudah kurang ajar. Tiba-tiba saja badai topan menderu fikirannya. Badai yang membalik pandanganya tentang pak angga. Kalau sebelumnya dia berfikir bahwa pak angga adalah dosen yang baik, disiplin prlakunya tinggi, seperti mata kuliah yang dia ajarkan dahulu, dosen yang bisa dia anggap seperti ayahandanya. Namun, kali ini semua itu hilang terhapus badai. Dengan tenaga yang ada dia berontak, keluar dari mobil dan menjauh. pemuda yang dari tadi hanya diam saja ikut menyela.

"Ifah, jika saja kamu menerima tawaran bapak itu, dijamin nilaimu akan selalu bagus, ditambah lagi kamu ga perlu lagi berjualan gorengan seperti ini"

Deru nafas yang kencang terdengar jelas dalam siuran angin malam di tepi jalan gubernuran. tubuhnya bergetar menahan emosi yang telah sampai di ubun-ubunnya..

"Maaf saya gadis yang baik-baik. meskipun kehidupan saya sangatlah susah, hidup sendirian tanpa kedua orang tua dan sanak famili, saya tidak akan pernah melakukan hal itu." Wajahnya mulai asin mengeluarkan kata-kata, kepalan tangan bergetar sambil mengingat sekilas pemandangan yang membuatnya menutup mata sewaktu dia jalan-jalan di Jogjakarta, di tepi trotoar, di Malioboro, pada malam harinya.

Wajah yang tadinya kelimis, duduk manis di dalam mobil, kini memandang ifah dengan mata yang nanar. raungan knalpot motor yang berebut lewat menambah didih darah. pemuda pemudi yang berada disekitar simpang, tiada peduli dengan kejadian itu.

"Jangan menyesali diri di akhir semestermu!" suara terdengan hilang timbul dari dalam mobil. lalu asap hitam mengepul tinggi dari mobil mewah tadi. Ifah mematung mengingat apa yang baru saja terjadi. Dengan ujung lengan baju, dikikis lapisan garam yang mulai mengering di pipinya.

~*~                           ~*~                             ~*~

Sahabat huzaifah terheran-heran melihat air mata mengalir di pipi namun senyum manis terpatri di bibirnya.

"O Becce', ada apa?"

Ifah mengulurkan tangan, meperlihatkan selembar kertas putih didominasi dengan huruf-huruf E. Dia menangis bukan karena nilainya banyak yang gagal tapi karena dia masih kuat melalui ujian yang lebih berat meski harus hidup mabbura' mali'.


Oleh: Habibi Daeng


Catatan: 
  • Mabbura' Mali', adalah ungkapan dalam bahasa bugis yang berarti hidup seorang diri atau sebatang kara.
  • Becce', adalah panggilan untuk gadis dalam bahasa bugis.


Jambi, 23 Juni 2011



7 comments:

Edi Kurniawan at: 24 Juni 2011 23.30 mengatakan...

cakep... (^_^)

Nihayatuzzin at: 25 Juni 2011 00.45 mengatakan...

Tekuyung kando, hehehe

auraman at: 29 Juni 2011 20.34 mengatakan...

punya bakat menjadi seorang penyair sepertinya, mas ikutan lomba novel di replubika aja sapa tau menang ^_^

Nihayatuzzin at: 29 Juni 2011 20.59 mengatakan...

@mas Aulia,, haduh. . . aamiiin. . . udah sering nyoba ,, ga masuk2 mas, trus infonya kadang ga nyampe nih. . . (kurang usaha, hahaha dasar. . .)

meutia rahmah at: 29 Juni 2011 22.59 mengatakan...

aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa cerita by..24 jempol dehterlarut aku membaca nya ^_^

Nick Salsabiila at: 29 Juni 2011 23.20 mengatakan...

ckckckcck...miris yah mas...meskipun ini fiksi...aku yakin di dunia nyata bnyak kejadian serupa...hiks..
nice post mas..keep writing...^^

Nihayatuzzin at: 1 Juli 2011 20.40 mengatakan...

@mba Tia,, aku senang banget kalau ada yang suka denga tulisanku mba, hehehe makasih ya 24 jelmpolnya, meskipun 22nya pinjaman, wkwkwkwk. . .

@ukhtina Nicky,, iya setuju. tapi memang 70% dari isi cerita sebenarnya adalah kenyataan kok. . .